Warga Gaza Kian Lapar, Anak-Anak Kurus Kering Isi Ruang Rawat: "Kami Pernah Kelaparan, Tapi Tidak Pernah Separah Ini"

Genvoice.id | 24 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Di tengah konflik berkepanjangan, rumah-rumah sakit di Gaza kini penuh dengan anak-anak yang tubuhnya tinggal tulang dan kulit. Mereka menangis kelaparan atau hanya bisa menggigit jari mereka sendiri, seperti yang dilakukan Mohammed, bayi tujuh bulan yang beratnya tak lebih dari 4 kilogram. Lengan kurusnya mencuat dari pakaian bayi yang bertuliskan "smiley boy", kontras dengan kenyataan pahit yang ia hadapi.

Mohammed hanyalah satu dari ratusan anak yang kini dirawat di rumah sakit Patient's Friends Benevolent Society, tempat hanya dua tim dokter anak masih berfungsi di Gaza City. Hingga 200 anak datang setiap hari, berharap mendapat bantuan medis di tengah krisis gizi yang kian mengganas.

Dr. Musab Farwana, salah satu dokter anak yang tersisa, tak hanya berjuang menyelamatkan pasien, tetapi juga harus berbagi makanan minim dengan keluarganya sendiri. "Anak-anak kami sudah terbiasa lapar," ujarnya, dikutip dariThe Guardian, Kamis (24/7). "Dan itu bukan sekadar lapar, tetapi kekurangan nutrisi penting yang benar-benar hilang."

Dalam tiga hari terakhir saja, 43 orang dilaporkan meninggal akibat kelaparan. Sebelumnya, total kematian karena kekurangan gizi berada di angka 68. Kini, angka itu naik drastis, menyusul pembatasan ketat pengiriman bantuan pangan ke wilayah Gaza.

Harga bahan makanan melonjak tajam. Tepung, misalnya, kini dibanderol lebih dari 30 kali lipat dari harga awal tahun. Bahkan uang atau koneksi tak lagi menjamin seseorang bisa mendapat makanan. Lebih dari 100 organisasi kemanusiaan-termasuk MSF, Save the Children, dan Oxfam-memperingatkan bahwa kelaparan di Gaza bukan hanya krisis kemanusiaan, tetapi bencana buatan manusia.

WHO menegaskan bahwa sebagian besar warga Gaza kini berada dalam kondisi kelaparan ekstrem. "Apa yang terjadi di Gaza adalah kelaparan massal yang disengaja," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Israel sempat menutup total akses bantuan ke Gaza pada awal Maret. Meski pembatasan itu diklaim dilonggarkan pada Mei, kenyataannya volume bantuan tetap minim. Organisasi yang didukung AS hanya bisa menyalurkan pangan yang cukup untuk bertahan tak sampai dua minggu bagi populasi Gaza, meskipun distribusinya berlangsung lebih dari 50 hari.

Bagi Umm Youssef al-Khalidi, ibu tujuh anak dengan suami yang lumpuh, harapan mulai sirna. Ia akhirnya memutuskan pergi ke pusat distribusi bantuan, meski sadar risikonya bisa fatal. "Kami menahan lapar hanya dengan air. Anak-anak saya terlalu lemah bahkan untuk berdiri lama," katanya.

Saat ini, anak-anaknya tidak lagi mengisi waktu dengan belajar seperti dulu, melainkan duduk di depan puing masjid yang hancur, mencoba menjual gelang dari manik-manik untuk membeli sesuap makanan. Tapi di Gaza hari ini, bahkan rasa iba dari orang yang lewat tidak cukup untuk menukar gelang itu dengan roti.

"Setiap hari saya berdoa agar anak-anak saya bisa makan. Tapi sering kali, saya hanya bisa bilang, 'Maaf, hari ini tidak ada,'" kata Khalidi lirih.