Longsor Cisarua Bandung Barat, 82 Warga Masih Hilang Tertimbun Tanah Di Lereng Gunung Burangrang
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar duka yang bener-bener menyayat hati datang dari wilayah Jawa Barat, tepatnya di kawasan lereng Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Pada Sabtu dini hari yang seharusnya jadi waktu istirahat tenang, bencana besar justru datang menyapu permukiman warga tanpa ampun. Tragedi memilukan ini bermula dari hujan dengan intensitas yang sangat tinggi yang terus mengguyur wilayah tersebut hingga memicu pergerakan tanah dalam skala besar.
Tanah dan lumpur dari ketinggian meluncur deras menimbun apa saja yang ada di bawahnya, mengubah suasana desa yang asri menjadi area penuh material bencana dalam sekejap mata. Fokus utama saat ini adalah operasi penyelamatan besar-besaran karena dilaporkan puluhan warga masih terjebak di bawah tumpukan tanah tersebut. Kondisi medan yang labil dan cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat menjadi tantangan luar biasa bagi para petugas di lapangan yang terus berpacu dengan waktu. Isu keselamatan warga kini menjadi prioritas nasional seiring dengan doa yang terus mengalir agar para korban yang hilang bisa segera ditemukan, Gen.
Tim SAR gabungan saat ini sedang berupaya ekstra keras buat menyisir setiap sudut lokasi bencana guna mencari 82 orang yang dinyatakan hilang. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, terjun langsung ke lokasi buat memantau jalannya evakuasi. Beliau menjelaskan bahwa dari total 113 warga yang terdampak langsung oleh runtuhan tanah ini, baru sebagian kecil yang berhasil dievakuasi dalam kondisi bernyawa.
"Dari 113 warga yang tertimpa longsor, 23 selamat dan sudah kita amankan. Kemudian ada delapan orang ditemukan meninggal dunia dan 82 lainnya masih dalam proses pencarian," ujar Herman di lokasi kejadian, Sabtu.
Herman juga nambahin kalau pencarian sekarang masih dilakukan secara manual oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI, dan Polri. Biar lebih maksimal, petugas bahkan mengerahkan bantuan dari anjing pelacak K9 buat mendeteksi keberadaan korban di balik timbunan lumpur yang sangat tebal. Pemerintah daerah setempat sekarang lagi fokus banget buat ngurusin warga yang selamat di tenda-tenda darurat sambil terus memantau situasi alam di sekitar lereng.
Detik-detik terjadinya bencana ini diceritain sama Kapolsek Cisarua, A. Y. Yogaswara. Menurut penuturannya, malapetaka ini terjadi sekitar jam 03.00 WIB pagi. Warga yang masih terlelap tiba-tiba dikejutkan sama suara dentuman dan gemuruh yang sangat keras dari arah gunung.
"Saat kejadian warga mendengar suara gemuruh cukup kuat, kemudian material longsor bergerak dari arah Kampung Pasirkuning menuju Kampung Pasir Kuda dan disertai banjir bandang," katanya.
Nggak cuma tanah saja, material longsor itu ternyata juga bawa banjir bandang yang langsung menghantam rumah-rumah warga. Dampaknya bener-bener parah, puluhan rumah dilaporkan rata sama tanah atau tertutup lumpur pekat. Yogaswara pun nggak bosen-bosen buat ngingetin warga yang masih ada di sekitar lokasi supaya segera menjauh. Hal ini penting banget karena kondisi tanah di sana masih sangat nggak stabil dan berpotensi besar bakal ada longsor susulan kalau hujan turun lagi.
Kondisi di lapangan memang sangat berat, tapi tim di sana berkomitmen buat terus mencari sampai semua korban ditemukan. Keselamatan petugas juga jadi perhatian supaya proses evakuasi nggak malah nambah korban baru.
Kira-kira menurut Gen, langkah apa sih yang paling efektif buat mencegah kejadian kayak gini nggak terulang lagi di pemukiman yang ada di lereng gunung?