Resmi Keluar dari Red Bull, Christian Horner Dapat Kompensasi 1 Triliun
JAKARTA, Genvoice.id - Christian Horner akhirnya benar-benar menutup lembaran panjang kebersamaannya dengan Red Bull Racing. Setelah hampir dua dekade menjadi nahkoda tim Formula 1 yang paling dominan dalam satu era, pria asal Inggris itu kini resmi meninggalkan kursinya sebagai Team Principal sekaligus CEO.
Keputusan ini bukan hanya akhir dari sebuah bab penting dalam sejarah Red Bull, melainkan juga membuka babak baru bagi Horner sendiri. Pasalnya, ia dipastikan menerima kompensasi bernilai fantastis yang mencapai £80 juta atau setara lebih dari Rp1,6 triliun. Jumlah ini menegaskan betapa tinggi nilai kontraknya, yang seharusnya baru berakhir pada tahun 2030.
Angka tersebut memang bukan bayaran penuh dari kontrak sampai 2030, melainkan hasil "penyelesaian" dengan nilai yang sudah dipangkas. Meski begitu, nilai ini tetap menjadi salah satu kompensasi terbesar dalam sejarah olahraga modern.
Horner bukanlah sekadar manajer biasa. Sejak bergabung pada 2005, ia membangun Red Bull dari tim "pendatang baru" hingga menjadi raksasa Formula 1. Bersamanya, Red Bull berhasil merebut delapan gelar juara dunia pembalap serta enam gelar konstruktor. Nama-nama besar seperti Sebastian Vettel hingga Max Verstappen lahir dan berjaya di bawah kepemimpinannya.
Namun, badai mulai menerpa di musim 2025. Meski masih menyisakan kontrak panjang, Horner dicopot dari tugas operasionalnya setelah GP Inggris pada Juli lalu. Desas-desus konflik internal, menurunnya performa tim, hingga hengkangnya sejumlah figur penting memperkeruh situasi.
Seiring keluarnya Horner, Red Bull langsung menunjuk Laurent Mekies sebagai pengganti. Mekies, yang sebelumnya berkarier di Ferrari dan AlphaTauri, kini memegang kendali penuh sebagai Team Principal dan CEO.
Kepergian Christian Horner dari Red Bull bukan sekadar berita pemutusan kontrak. Ini adalah akhir dari era penuh prestasi, intrik, dan drama. Kompensasi triliunan rupiah yang ia terima hanyalah cerminan dari nilai besar yang dibawanya selama 20 tahun terakhir.
Di sisi lain, Horner kini bebas menentukan langkah barunya. Banyak yang berspekulasi, pria 51 tahun itu bisa kembali ke paddock bersama tim lain, meski regulasi F1 mengatur adanya masa tunggu sebelum bergabung dengan rival.