Dokter Tirta Kena Heat Stroke tapi Tetap Sukses Tuntaskan Berlin Marathon 2025!

Genvoice.id | 23 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, Berlin Marathon 2025 yang digelar pada Minggu (21/9) di Jerman jadi panggung penuh drama buat salah satu peserta dari Indonesia, Dokter Tirta. Maraton sejauh 42 kilometer yang diikuti sekitar 80 ribu pelari itu ternyata nggak berjalan mulus untuknya. Di tengah panas terik Berlin, suhu tubuh Tirta sempat melonjak drastis hingga 40 derajat Celcius akibat heat stroke.

Lewat unggahan di Instagram, pria dengan nama lengkap Tirta Mandira Hudhi itu cerita kalau dirinya mulai drop pace di kilometer 24. "Drop pace (kecepatan lari menurun) di km 24 kena heat stroke. Frustasi tapi mental mengatakan jangan nyerah," tulisnya. Kondisi itu memaksanya berhenti sejenak, mendatangi tim medis, dan meminta es batu demi menurunkan suhu tubuh.

Suhu Berlin hari itu tercatat mencapai 27 derajat Celcius dengan panas kering yang menyengat. Tirta sampai menggambarkan sensasinya: "Yang tanya rasanya kayak apa, ini tuh terik bukan lembab. Rasanya kayak kamu CFD (car free day) tapi start jam 10 pagi."

Setelah istirahat singkat, Cipeng-sapaan akrabnya-memutuskan lanjut lari. Meski akhirnya finish lebih lama dari target awal, ia berhasil menuntaskan balapan dengan waktu 4 jam 38 menit. Uniknya, waktu itu justru tercatat sebagai personal best buatnya. "Ya namanya maraton ada magisnya sendiri. Pelajaran buatku untuk lebih adaptif ke depannya," katanya.

Untungnya, serangan heat stroke itu nggak bikin masalah serius. Dokter Tirta mengaku masih bisa berjalan, melompat, tanpa kram sedikit pun. Bahkan, ia menegaskan tidak kapok ikut lomba lari jarak jauh dan sudah ancang-ancang untuk ikut maraton lain.

Buat kamu yang belum tahu, heat stroke adalah kondisi serius ketika tubuh gagal mengatur suhu sehingga bisa merusak organ vital kalau nggak cepat ditangani. Menurut Kemenkes RI, tanda-tandanya antara lain demam tinggi, pusing, mual, muntah, jantung berdebar, hingga pingsan. Penanganannya bisa dengan memindahkan penderita ke tempat teduh, mengompres area leher atau ketiak dengan air dingin, serta memastikan tubuh terhidrasi.

Berlin Marathon kali ini memang jadi bukti bahwa olahraga ekstrem bukan cuma soal fisik, tapi juga mental dan daya tahan tubuh. Dan Dokter Tirta berhasil membuktikan bahwa meski diterpa heat stroke, semangat juang bisa membawanya sampai ke garis finish.