BMKG Ungkap Biang Kerok Karhutla di Kalimantan, Ternyata Ini Penyebabnya!

Genvoice.id | 23 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan tidak lepas dari kondisi cuaca yang semakin kering.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko terjadinya karhutla pada tahun ini.

Kondisi iklim yang kering membuat lahan menjadi lebih mudah terbakar. Ketika api muncul, terutama di wilayah yang vegetasinya sudah kering, kebakaran dapat lebih cepat meluas dan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Kondisi tersebut kemudian memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa kondisi kering menjadi salah satu faktor yang memperparah situasi karhutla. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Dasarian I Agustus 2026, indeks IOD tercatat sebesar +0,457, sementara nilai SSTA di wilayah Nino 3.4 mencapai +2,77. Angka tersebut menunjukkan El Nino berada pada intensitas sangat kuat.

El Nino sendiri berpengaruh terhadap pola curah hujan di Indonesia. Ketika fenomena tersebut berlangsung bersamaan dengan musim kemarau, kondisi di sejumlah wilayah dapat menjadi jauh lebih kering. BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa kombinasi kemarau dan El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Risiko tersebut memang sudah diperkirakan sejak beberapa bulan sebelumnya. BMKG memprediksi potensi karhutla meningkat mulai Juli dan mencapai periode paling rawan pada Agustus hingga September 2026, khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta sejumlah provinsi lain masuk dalam wilayah yang mendapat perhatian khusus.

Kondisi kering juga membuat lahan gambut dan vegetasi lebih rentan terbakar. Ketika kelembapan tanah menurun, api dapat lebih mudah menyebar. Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya dilakukan setelah api muncul, tetapi juga melalui berbagai langkah pencegahan untuk mempertahankan kelembapan lahan.

BMKG bersama sejumlah instansi pemerintah telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu langkah mitigasi. Upaya tersebut dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan pembasahan, terutama daerah yang rawan karhutla.

Hingga akhir Juli 2026, BMKG mencatat ribuan titik panas terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 5.019 titik panas terpantau hingga 29 Juli, dengan konsentrasi yang cukup tinggi antara lain di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Dampak karhutla pun tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Asap yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat. Di sejumlah wilayah Kalimantan, kabut asap bahkan telah berdampak pada sektor transportasi udara hingga membuat jarak pandang di bandara menurun.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa faktor cuaca memiliki peran penting dalam memperbesar ancaman karhutla. Namun, kondisi iklim kering bukan berarti seluruh kebakaran terjadi secara alami. Aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar, juga menjadi salah satu faktor penting yang perlu diawasi. Ketika api digunakan dalam kondisi lahan sangat kering, risiko api tidak terkendali menjadi jauh lebih besar.