Geger Bayi Lahir dari 3 Orang Tua! Ini Penjelasan Ilmiah dan Faktanya!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, bayangin deh... Bayi-bayi yang lahir bukan dari dua, tapi tiga "kontributor" DNA sekaligus! Yup, bukan film sci-fi atau teori konspirasi. Ini beneran terjadi di Inggris, dan para ilmuwan mengklaim teknik ini bisa jadi penyelamat buat ibu-ibu yang punya risiko menurunkan penyakit mitokondria yang langka dan mematikan ke anak-anak mereka.
Cerita bermula dari eksperimen medis yang tujuannya super mulia: mencegah bayi lahir dengan gangguan mitokondria-penyakit genetik yang bisa bikin anak mengalami kejang, gangguan tumbuh kembang, sampai kegagalan organ vital. Dan hasilnya? Delapan bayi berhasil lahir sehat lewat metode ini!
Gimana cara kerjanya? Sederhana versi ilmuwannya, rumit versi kita. Tapi singkatnya, teknik ini ngambil DNA utama dari si ibu dan ayah seperti biasa, lalu mengganti mitokondria (yang rusak dan bisa jadi sumber penyakit) dengan mitokondria sehat dari donor perempuan lain. Hasilnya, si bayi punya genetik dari tiga orang: ibu, ayah, dan si donor mitokondria. Tapi tenang, kontribusi si donor cuma sekitar 1% dan enggak ngaruh ke sifat atau wajah bayi.
Bayi-bayi ini dilahirkan lewat program di Inggris dan Australia. Mereka adalah hasil dari fertilisasi in vitro (IVF) menggunakan embrio yang dimodifikasi untuk menghindari penyakit. Delapan dari 22 embrio berhasil berkembang menjadi bayi sehat. Satu ibu masih hamil, sementara yang lainnya dilaporkan sehat pada usia beberapa bulan hingga dua tahun.
"Memperluas jangkauan pilihan reproduksi ... akan memberdayakan lebih banyak pasangan untuk mewujudkan kehamilan yang aman dan sehat," kata Dr. Zev Williams dari Columbia University.
Tapi tetap aja, ini bukan teknologi yang bebas digunakan di mana-mana. Negara seperti AS dan Kanada masih belum mengizinkan metode ini karena khawatir soal dampak jangka panjangnya-terutama buat generasi selanjutnya. Bahkan di Inggris, tiap pasangan harus dapat izin khusus dari badan pengatur kesuburan sebelum menjalani prosedur ini.
Seorang dokter dari Kanada, Dr. Paul Chang, juga kasih warning, "Untuk membuka gerbang lebar-lebar dan memperkenalkannya ke seluruh dunia, saya rasa masih terlalu dini." Tapi untuk banyak keluarga, waktu adalah hal yang sangat terbatas-dan teknologi ini bisa jadi satu-satunya harapan mereka.
Salah satu cerita menyentuh datang dari Andrea Boland, perempuan berusia 37 tahun asal Toronto yang menderita gangguan penglihatan akibat penyakit mitokondria langka. Ia bilang, "Akan sangat sulit bagi saya untuk hidup dengan rasa bersalah itu," saat bicara tentang kemungkinan menurunkan penyakit tersebut ke anaknya nanti.
Nah Gen, teknologi ini mungkin masih jadi perdebatan, tapi satu hal yang pasti: dunia medis sedang bergerak maju dengan kecepatan tinggi. Dan siapa tahu, di masa depan nanti, pilihan punya anak sehat bukan cuma soal doa dan keberuntungan-tapi juga sains dan teknologi.