Berikut Adalah 28 Negara Uni Eropa yang Mengecam Israel Terhadap Palestina
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kecaman internasional terhadap Israel semakin keras, pasalnya, sebanyak 28 negara dan Komisioner Uni Eropa untuk Kesetaraan, Kesiapsiagaan, dan Manajemen Krisis mengeluarkan pernyataan gabungan pada Senin (21/7), menyuarakan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di Gaza yang terus memburuk.
Dilansir dari Antara, dalam pernyataan itu, komunitas internasional menyebut bahwa penderitaan warga sipil di Gaza telah mencapai titik terendah baru. Mereka mengecam pembatasan akses bantuan kemanusiaan dan tingginya angka korban jiwa di kalangan sipil.
"Sungguh mengerikan bahwa lebih dari 800 warga Palestina tewas saat mencoba mencari bantuan. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang tidak dapat diterima," bunyi pernyataan tersebut.
Mereka menyebut bahwa penolakan Pemerintah Israel untuk mengizinkan masuknya bantuan esensial telah memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Dalam pernyataan tegas, mereka menyatakan bahwa Israel wajib mematuhi hukum humaniter internasional dan harus segera mengakhiri perang di Gaza.
Selain itu, pernyataan tersebut juga menuntut agar Israel mencabut pembatasan terhadap aliran bantuan, serta mengizinkan organisasi seperti PBB dan LSM kemanusiaan menjalankan misi penyelamatan dengan aman dan efektif.
Pernyataan ini ditandatangani oleh para menteri luar negeri dari Inggris, Prancis, Italia, Kanada, Jepang, serta sejumlah negara Barat lainnya, yang menyampaikan keprihatinan terhadap upaya mengubah status teritorial atau demografis wilayah Palestina yang diduduki.
Namun, kecaman ini langsung dibalas oleh Israel. Melalui Kementerian Luar Negeri, Israel menyebut pernyataan tersebut "tidak sesuai dengan kenyataan", dan menuding bahwa Hamas adalah pihak yang bertanggung jawab atas kondisi ini.
"Pernyataan itu gagal memberikan tekanan pada Hamas dan tidak mengakui peran mereka dalam menghambat kesepakatan pembebasan sandera serta gencatan senjata," ujar pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Israel.
Israel menyebut bahwa justru aksi-aksi Hamas lah yang menyebabkan krisis berlarut dan menyulitkan tercapainya solusi damai. Mereka juga menuduh kelompok tersebut menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup dan menolak kesepakatan yang dapat menyelamatkan nyawa.
Ketegangan ini semakin memperlebar jurang diplomatik antara Israel dan sekutu-sekutu lamanya di Eropa dan Amerika Utara. Sementara itu, kondisi di Gaza terus memburuk, dengan ribuan korban jiwa dan akses bantuan yang semakin terbatas, membuat komunitas global harus bergerak cepat atau menghadapi bencana kemanusiaan yang lebih besar.