Hak Siar Piala Dunia TVRI Rp1,3 Triliun, Kenapa China dan India Justru Bayar Lebih Murah?

Genvoice.id | 23 Jun 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Besarnya nilai hak siar Piala Dunia yang dibayarkan Indonesia melalui TVRI belakangan menjadi sorotan. Banyak yang mempertanyakan mengapa Indonesia harus mengeluarkan dana hingga sekitar Rp1,3 triliun, sementara negara dengan jumlah penduduk jauh lebih besar seperti China dan India justru dikabarkan memperoleh harga yang lebih rendah.

Sekilas memang terlihat janggal. Dengan jumlah penduduk yang mencapai miliaran orang, seharusnya China dan India memiliki nilai hak siar yang lebih mahal dibanding Indonesia. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Gen, penentuan harga hak siar Piala Dunia ternyata tidak hanya bergantung pada jumlah penduduk atau luas pasar sebuah negara. FIFA memiliki sejumlah pertimbangan lain, mulai dari antusiasme masyarakat terhadap sepak bola, jam tayang pertandingan, hingga proses negosiasi yang dilakukan masing-masing pemegang hak siar di setiap negara.

Selain itu, proses penjualan hak siar FIFA juga dilakukan secara tertutup. Artinya, setiap negara bisa mendapatkan harga yang berbeda sesuai hasil negosiasi dan potensi pasar masing-masing.

Antusiasme Sepak Bola Indonesia Jadi Faktor Utama

Salah satu alasan mengapa harga hak siar di Indonesia relatif tinggi adalah besarnya minat masyarakat terhadap sepak bola.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola yang sangat besar. Setiap turnamen internasional, termasuk Piala Dunia, hampir selalu menarik perhatian jutaan penonton.

Tingginya jumlah penonton ini membuat nilai komersial siaran juga ikut meningkat. Potensi pendapatan dari iklan menjadi jauh lebih besar sehingga FIFA menilai pasar Indonesia memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Karena alasan tersebut, pemegang hak siar di Indonesia berani mengeluarkan biaya lebih besar demi mendapatkan hak menayangkan pertandingan secara langsung.

Zona Waktu Bikin Harga di China Turun

Faktor lain yang cukup berpengaruh adalah perbedaan waktu penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Perbedaan waktu sekitar 12 hingga 14 jam membuat sebagian besar pertandingan berlangsung pada jam yang kurang ideal bagi penonton di Asia.

Di China, kondisi ini berdampak besar terhadap nilai komersial siaran. Pertandingan yang berlangsung pada siang atau dini hari waktu setempat diperkirakan tidak mampu menarik jumlah penonton sebanyak biasanya.

Akibatnya, FIFA disebut menurunkan harga hak siar hingga sekitar 80 persen agar tetap menarik bagi pasar penyiaran di negara tersebut.

Sementara di Indonesia, meski banyak pertandingan juga berlangsung dini hari, antusiasme masyarakat terhadap sepak bola dinilai tetap tinggi. Hal itu membuat nilai hak siarnya tetap berada di level yang lebih mahal.

Strategi Negosiasi Setiap Negara Berbeda

Penjualan hak siar FIFA menggunakan sistem negosiasi business to business (B2B). Dengan sistem ini, tidak ada harga baku yang berlaku untuk semua negara.

Besaran biaya sangat dipengaruhi oleh penawaran dari lembaga penyiaran lokal, potensi keuntungan komersial, hingga minat pasar terhadap turnamen tersebut.

India menjadi contoh yang berbeda. Di negara tersebut, olahraga yang paling diminati masyarakat adalah kriket, bukan sepak bola.

Karena minat penyiar terhadap Piala Dunia tidak sebesar di Indonesia, nilai penawarannya pun lebih rendah. Kondisi itu membuat FIFA akhirnya menawarkan harga yang jauh lebih murah agar hak siar tetap terjual.

Selain faktor-faktor tersebut, angka sekitar Rp1,3 triliun yang dikeluarkan pemerintah untuk TVRI juga bukan hanya mencakup satu turnamen Piala Dunia.

Nilai tersebut merupakan paket hak siar untuk tiga turnamen besar hingga tahun 2027. Sementara beberapa negara lain melakukan pembelian untuk paket yang berbeda, baik hanya satu edisi turnamen maupun skema lainnya. Perbedaan paket inilah yang membuat nominal antarnegara terlihat sangat berbeda jika dibandingkan secara langsung.