Malam ke-14 Ramadhan di Oman Meriah! Anak-anak Keliling Rumah Rayakan Qaranqasho

Genvoice.id | 23 Feb 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -  Saat malam ke-14 Ramadhan tiba, suasana di Oman berubah menjadi lebih hidup.

Langit malam seolah menjadi saksi tradisi Qaranqasho, perayaan khas yang selalu dinanti masyarakat setiap pertengahan bulan suci.

Di berbagai permukiman, anak-anak mengenakan pakaian tradisional lalu berjalan menyusuri gang. Mereka mengetuk pintu rumah warga sambil menyanyikan lagu-lagu khas Qaranqasho. Tradisi turun-temurun ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadhan di Oman.

Di tengah ritme ibadah puasa yang khusyuk, Qaranqasho menghadirkan keceriaan, kebersamaan, dan semangat berbagi. Perayaan ini digelar pada malam menjelang tanggal 15 Ramadhan, menandai setengah perjalanan bulan suci telah dilalui.

Bagi masyarakat Oman, Qaranqasho bukan sekadar tradisi meriah. Perayaan ini juga menjadi bentuk apresiasi bagi anak-anak yang telah menjalankan puasa selama dua pekan pertama Ramadhan.

Anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah sambil melantunkan lagu tradisional. Tuan rumah kemudian menyambut mereka dengan hadiah sederhana, mulai dari kacang-kacangan, kue, manisan, uang receh, hingga halwa khas Oman.

Tradisi ini kerap disandingkan dengan Gargee’an yang dikenal di Kuwait dan Bahrain. Meski serupa dalam konsep, Qaranqasho memiliki ciri khas tersendiri, terutama pada lirik lagu, irama, dan ekspresi budayanya yang unik.

Akar Sejarah dan Makna Sosial

Sejumlah sejarawan budaya Teluk menilai Qaranqasho berakar dari kultur masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi nilai komunal. Solidaritas sosial, kedekatan keluarga, serta hubungan antar tetangga menjadi fondasi yang memperkuat tradisi ini.

Qaranqasho berfungsi sebagai ruang pembelajaran sosial bagi anak-anak. Mereka tidak hanya bergembira, tetapi juga belajar disiplin puasa, bersosialisasi, serta menghargai lingkungan sekitar.

Tradisi ini memang bukan bagian dari ritual ibadah formal