Wisata Bali Dikabarkan Sepi Saat Libur Nataru? Gubernur Wayan Koster Bongkar Data Aslinya yang Bikin Kaget!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Belakangan ini media sosial lagi diramaikan sama isu kalau Pulau Dewata Bali mendadak sepi pengunjung pas momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Banyak yang bilang kalau suasana jalanan nggak seramai biasanya, bahkan katanya para sopir pariwisata lagi sepi job. Isu ini jelas bikin banyak pihak bertanya-tanya, apakah Bali sudah mulai kehilangan daya tariknya sebagai destinasi favorit buat liburan akhir tahun? Mengingat biasanya Bali selalu penuh sesak sampai macet parah di titik-titik populer, kabar ini tentu langsung jadi bahan obrolan hangat di internet. Namun, buat kalian yang sudah terlanjur percaya sama gosip itu, sebaiknya simak dulu klarifikasi resmi dari orang nomor satu di Bali. Ternyata, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik dengan apa yang ramai dibicarakan di media sosial.
Gubernur Bali, Wayan Koster, secara tegas membantah isu tersebut dan menyebutnya sebagai informasi yang nggak benar alias bohong. Koster menekankan kalau pihaknya memegang data riil yang menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan ke Bali selama periode Nataru ini sebenarnya justru mengalami tren peningkatan yang cukup signifikan. Jadi, kalau ada yang bilang Bali sepi, data dari pintu masuk bandara dan dinas terkait justru bicara sebaliknya.
"Bohong, saya punya data, setiap hari totalnya meningkat," ucap Koster dilansir dari Antara, Senin.
Gen, kalau kita lihat angkanya, kunjungan turis asing atau wisatawan mancanegara belakangan ini bahkan sanggup menyentuh angka 20 ribu orang setiap harinya. Padahal, sebelum masuk periode libur Nataru, angkanya cuma ada di kisaran 17 ribu kunjungan per hari. Secara keseluruhan, dari awal tahun sampai pertengahan Desember 2025 ini, jumlah bule yang liburan ke Bali sudah mencapai 6,7 juta orang. Kalau dibandingin sama tahun 2024 yang cuma 6,3 juta di periode yang sama, artinya ada kenaikan sebesar 400 ribu orang.
"Tempo hari kunjungan naik kira-kira 8 persen, sekarang hitung saja per data, hingga hari ini tahun 2024 6,3 juta sekarang 6,7 juta, naik 400 ribu," ujar Koster memberikan rincian data yang akurat.
Lalu, kenapa jalanan terasa agak lengang dan sopir-sopir pariwisata ngerasa sepi panggilan? Koster punya penjelasan yang masuk akal banget. Ternyata faktor cuaca ekstrem yang lagi sering hujan lebat sampai banjir di beberapa titik jadi penyebab utamanya. Banyak turis yang akhirnya lebih milih buat stay dan istirahat di tempat menginap daripada keluyuran jalan-jalan keluar. "Kan sekarang musim hujan, banjir, mungkin orang datang ke Bali tidak untuk jalan-jalan banyak yang istirahat, jadi ini datanya riil baik dari Angkasa Pura maupun dinas pariwisata," katanya.
Selain faktor cuaca, pola liburan turis zaman sekarang juga sudah berubah. Sekarang banyak banget yang lebih suka menginap di akomodasi berbasis online kayak AirBnB daripada hotel berbintang. Hal ini bikin data okupansi hotel resmi nggak kelihatan melonjak tinggi banget, padahal orang yang datang sebenarnya banyak. Masalahnya, banyak penginapan tipe ini yang nggak bayar pajak dan sulit dipantau sistem.
Koster menyebut kalau okupansi hotel di Nusa Dua dan Sanur sebenarnya masih oke di angka 80 persen. Tapi gara-gara menjamurnya kos-kosan yang dijadikan penginapan online, statistik jadi agak rancu. Koster bahkan sudah dapet mandat dari pemerintah pusat buat bikin aturan tegas soal ini. Jadi, kesimpulannya Bali tetap ramai dan asyik buat dikunjungi, cuma cara orang menikmati liburannya saja yang sudah bergeser.