Kisah Pahit Industri Manis: Harga Molasses Terjun Bebas Akibat Kebijakan Impor!
Petani Tebu Berteriak! Harga Molasses Anjlok Gara-Gara Impor
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar kurang sedap datang dari industri gula nasional. Harga tetes tebu atau molasses, salah satu produk penting dari pengolahan tebu, anjlok parah hingga menyentuh angka Rp 700 per kilogram. Penurunan drastis ini dipicu oleh kebijakan impor molasses yang membanjiri pasar dalam negeri.
Kebijakan ini jelas memukul keras para petani dan produsen gula, yang sebelumnya menikmati harga stabil di atas Rp 2.000 per kilogram.
Hal ini karena pemerintah buka keran impor molasses atau tetes tebu dari Thailand, harga komoditas ini langsung terjun bebas. Dari yang tadinya stabil di Rp 2.400 per kilogram, sekarang hanya dihargai sekitar Rp 700 per kilogram.
Kebijakan ini langsung bikin Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Fathudin Rosid, angkat bicara. Menurutnya, selama ini pendapatan petani itu dari dua hal, yaitu gula dan tetes tebu.
Kalau harga tetes tebu hancur, ini jelas sangat merugikan. Apalagi, tetes tebu yang harusnya laku keras untuk bahan baku etanol, pakan ternak, dan industri lainnya, sekarang harus menumpuk di pabrik.
Pemerintah Sigap Ambil Langkah
Kabar baiknya, jeritan para petani ini langsung didengar oleh pemerintah. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan kalau Permendag yang mengizinkan impor bebas itu akan segera direvisi. Pemerintah bakal menerapkan kebijakan larangan terbatas (lartas) impor etanol. Artinya, impor hanya bisa dilakukan kalau pasokan dalam negeri memang tidak cukup.
Langkah ini diambil atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya jelas, untuk melindungi harga tetes tebu agar tidak anjlok karena impor. Sekaligus, ini jadi cara pemerintah untuk memastikan hasil panen petani bisa diserap maksimal. Jadi, tidak ada lagi cerita petani gigit jari karena produk tidak laku.
Win-Win Solution untuk Semua Pihak
Kebijakan lartas impor ini juga dinilai strategis. Menurut Amran, pemerintah ingin semua pihak sama-sama untung. Petani bisa senyum karena produknya laku dengan harga yang layak, konsumen bahagia, dan pengusaha juga tetap untung. Jadi, tidak ada satu pun pihak yang dikorbankan.
APTRI sendiri yakin, kalau lartas impor diberlakukan kembali, produksi molasses nasional yang rata-rata 1,6 juta ton per tahun bakal cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri. Jadi, tidak perlu lagi impor yang malah bikin harga anjlok.
Gimana nih, menurut Gen? Kira-kira langkah pemerintah ini sudah tepat belum untuk melindungi petani tebu kita? Yuk, share pendapat kalian di kolom komentar!