Elon Musk Akhirnya Mau Bayar Pesangon Rp7,6 Triliun untuk Mantan Pegawai Twitter?

Genvoice.id | 22 Aug 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Setelah lebih dari dua tahun penuh drama, kabar mengejutkan datang dari Elon Musk dan perusahaannya, X (dulunya Twitter). Menurut dokumen pengadilan terbaru, X dikabarkan akan menyelesaikan gugatan class action senilai 500 juta dolar AS (sekitar Rp7,6 triliun) terkait pesangon yang tak kunjung dibayarkan kepada ribuan mantan karyawan.

Kasus ini bermula sejak Musk membeli Twitter pada 2022. Tak lama setelah akuisisi, ia langsung memangkas besar-besaran jumlah pegawai dengan memecat lebih dari 6.000 orang-sekitar 80% dari total karyawan. Saat itu Musk memang menjanjikan pesangon tiga bulan gaji, tapi banyak eks pegawai mengaku tidak menerima pembayaran penuh, bahkan ada yang tidak mendapatkan sama sekali.

Masalah semakin pelik karena karyawan menilai tawaran Musk jauh lebih kecil dibanding perjanjian pesangon yang berlaku sejak 2019. Dalam aturan lama, pegawai senior seharusnya berhak atas pesangon hingga enam bulan gaji pokok ditambah satu minggu gaji untuk setiap tahun masa kerja. Tak heran, ribuan mantan karyawan kemudian membawa kasus ini ke pengadilan.

Namun, pada Juli lalu, Hakim Distrik AS di San Francisco sempat memutuskan bahwa Musk tidak wajib mematuhi perjanjian pesangon lama yang dibuat oleh Twitter sebelum akuisisi. Putusan ini jelas mengecewakan para penggugat, hingga mereka memutuskan untuk mengajukan banding.

Seharusnya, bulan depan kedua belah pihak akan kembali bertemu di pengadilan untuk mendengar argumen banding. Tapi mendadak, baik pihak Musk maupun para penggugat meminta agar sidang ditunda karena sedang berupaya mencapai kesepakatan damai. Artinya, ada peluang besar ribuan mantan pegawai ini akhirnya bisa mendapatkan hak mereka setelah penantian panjang.

Jika benar terlaksana, penyelesaian kasus ini bisa menjadi salah satu ganti rugi pesangon terbesar dalam sejarah industri teknologi. Namun, detail pasti mengenai berapa banyak uang yang akan diterima tiap karyawan masih belum terungkap.

Di sisi lain, penyelesaian ini juga bisa membantu Musk menutup bab kontroversial lain dalam kepemilikan X. Selama dua tahun terakhir, ia kerap menuai kritik karena kebijakannya yang dianggap semena-mena, termasuk pemecatan massal, perubahan aturan moderasi konten, hingga rebranding Twitter menjadi X.

Meski begitu, banyak yang menilai penyelesaian ini bukan sekadar soal keuangan, tapi juga soal citra. Musk mungkin berusaha menunjukkan bahwa ia masih bisa mengambil langkah "fair" meski reputasinya sering dipertanyakan. Pertanyaannya, apakah langkah ini cukup untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap X-atau justru hanya strategi agar masalah lama cepat selesai?