TVRI Jelaskan Anggaran Rp1,3 Triliun untuk Hak Siar FIFA, Ternyata Bukan Hanya Piala Dunia 2026
JAKARTA, GENVOICE.ID - Polemik mengenai anggaran Rp1,3 triliun yang digunakan untuk membeli hak siar FIFA mendapat tanggapan langsung dari TVRI. Lembaga penyiaran publik tersebut menegaskan bahwa nilai kontrak yang ramai diperbincangkan tidak hanya diperuntukkan bagi penayangan Piala Dunia 2026.
Direktur Utama TVRI, Tubagus Fiki Chikara Satari, menjelaskan bahwa kesepakatan yang dilakukan mencakup paket hak siar untuk tiga turnamen FIFA dalam satu kontrak. Karena itu, menurutnya, angka yang beredar perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
Mencakup Tiga Turnamen FIFA Sekaligus
TVRI memperoleh hak siar yang meliputi Piala Dunia FIFA 2026, Piala Dunia U-17 FIFA 2026, serta Piala Dunia Wanita FIFA 2027. Ketiga ajang tersebut masuk dalam satu paket kerja sama yang telah disepakati bersama FIFA.
Dengan skema bundling tersebut, TVRI tidak hanya mendapatkan hak menayangkan pertandingan utama, tetapi juga berbagai konten pendukung yang berkaitan dengan penyelenggaraan turnamen.
Hak Pemanfaatan Berlaku Hingga Tahun 2027
Menurut Fiki, kerja sama tersebut dituangkan dalam Media Rights Agreement yang ditandatangani pada Desember 2025. Kontrak itu memberikan hak pengelolaan dan distribusi konten FIFA dalam rentang waktu yang cukup panjang.
Masa lisensi dimulai 180 hari sebelum turnamen berlangsung dan tetap berlaku hingga 180 hari setelah kompetisi berakhir. Dengan demikian, TVRI memiliki kesempatan untuk memanfaatkan konten FIFA lebih lama, termasuk menayangkan ulang pertandingan dan materi pendukung lainnya.
"Hak siar ini tidak hanya berlaku sampai final Piala Dunia selesai, tetapi juga mencakup periode pemanfaatan yang lebih panjang," ujar Fiki.
Bantah Anggapan Nilai Kontrak Terlalu Mahal
Menanggapi kritik yang menyebut harga hak siar terlalu tinggi, TVRI menilai perbandingan dengan negara lain tidak dapat dilakukan secara sederhana. Sebab, setiap kontrak hak siar memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda.
Selain itu, informasi mengenai nilai kontrak di berbagai negara umumnya bersifat rahasia dan tidak dipublikasikan secara terbuka. Perbedaan hak distribusi, jumlah pertandingan, hingga pemanfaatan konten digital juga memengaruhi nilai kerja sama yang disepakati.
Proses Pembayaran Diklaim Sesuai Ketentuan
TVRI memastikan seluruh tahapan pembayaran telah dilaksanakan sesuai isi kontrak dan mekanisme pengelolaan anggaran yang berlaku. Pihak manajemen menyebut proses tersebut dilakukan berdasarkan aturan yang telah ditetapkan.
Menurut TVRI, dana yang dibayarkan telah melalui prosedur pengawasan serta sesuai dengan nilai kontrak yang disepakati bersama FIFA.
Masyarakat Bisa Menonton Secara Gratis
Untuk menjangkau penonton yang lebih luas, TVRI menyiapkan sejumlah jalur distribusi siaran. Pertandingan FIFA dapat disaksikan secara gratis melalui TVRI Nasional dan TVRI Sport yang tersedia di televisi digital.
Selain siaran televisi, TVRI juga menggandeng platform digital seperti Folaplay dan MAXStream untuk layanan streaming. Sementara itu, distribusi melalui televisi satelit berbayar dilakukan bekerja sama dengan sejumlah operator penyiaran yang telah ditunjuk.
Polemik Bermula dari Sorotan Anggaran Besar
Perdebatan mengenai hak siar FIFA mencuat setelah publik mengetahui nilai kontrak yang mencapai Rp1,3 triliun. Sebagian pihak menganggap angka tersebut terlalu besar karena mengira dana itu hanya digunakan untuk membeli hak siar Piala Dunia 2026.
Namun, TVRI menegaskan bahwa kontrak tersebut mencakup tiga turnamen FIFA sekaligus, hak pemanfaatan konten dalam jangka panjang, serta distribusi di berbagai platform penyiaran. Menurut TVRI, kritik yang muncul menjadi bagian dari perhatian publik terhadap transparansi penggunaan anggaran negara dalam penyelenggaraan siaran olahraga internasional.