Bahaya Longsor di Tol Cisumdawu Meningkat, Badan Geologi Rekomendasikan Relokasi Warga Jika Pergerakan Tanah Terus Berlanjut
JAKARTA, GENVOICE.ID - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi struktural menyusul pergerakan tanah yang terus berkembang di ruas Tol Cisumdawu Km 177, tepatnya di Dusun Bojongtotor, Desa Sirnamulya, Kecamatan Sumedang Utara, Jawa Barat.
Dilansir dari Antara, Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, dalam pernyataan resminya pada Minggu (22/6), mengungkapkan bahwa situasi di lereng tol semakin mengkhawatirkan dan menuntut penanganan teknis menyeluruh guna mencegah risiko longsor yang lebih besar.
"Jika upaya mitigasi struktural telah dilakukan namun gerakan tanah masih berkembang, maka perlu dipertimbangkan relokasi permukiman di atas lereng dan pengalihan jalur kendaraan, demi keselamatan," tegas Wafid.
Mitigasi mencakup perbaikan sistem drainase bawah permukaan seperti dewatering atau deep well, dan drainase permukaan untuk mencegah penumpukan air yang memperbesar tekanan pori tanah. Selain itu, penguatan lereng dengan memastikan pondasi bore pile tertanam melewati bidang gelincir, serta perbaikan dinding penahan tanah yang rusak juga menjadi fokus utama.
Revegetasi lereng untuk mengurangi erosi dan infiltrasi air, serta pemantauan deformasi lereng secara realtime menggunakan peralatan geodetik dan geoteknik juga sangat diperlukan sebagai bagian dari sistem peringatan dini (early warning system).
Wafid juga menegaskan perlunya penilaian ulang kemantapan lereng, termasuk pemodelan pengaruh air hujan dan potensi kegempaan terhadap stabilitas lereng, serta evaluasi berkala untuk mengidentifikasi zona rawan.
Pergerakan tanah di lokasi ini bukan fenomena baru. Menurut laporan Badan Geologi, retakan pertama kali teridentifikasi pada 2017, bahkan sebelum pembangunan Tol Cisumdawu dimulai. Sejak dilakukan pemotongan lereng pada 2021, gerakan tanah berkembang hingga bagian atas lereng, dan kembali memburuk pada Mei 2025 setelah hujan deras berkepanjangan mengguyur kawasan tersebut.
Jenis gerakan tanah yang terdeteksi adalah rayapan (creep), yang mencakup area seluas 7,36 hektare dengan panjang 340 meter dan lebar hingga 275 meter. Retakan yang membentuk pola tapal kuda pada lereng menunjukkan penurunan permukaan tanah antara 1,35 hingga 1,65 meter.
Potensi terbesar dari gerakan ini adalah berkembangnya menjadi longsor dalam (deep seated rotational landslide), yakni longsor dengan bidang gelincir melengkung yang sangat berbahaya karena sulit dikendalikan dan dapat menghancurkan struktur besar.
Gerakan tanah telah merusak sepanjang 193 meter ruas jalan Tol Cisumdawu, baik dari arah Bandung maupun Sumedang. Di bagian tengah lereng terjadi amblasan, menyebabkan pecahnya bore pile dan dinding penahan tanah. Di bagian bawah lereng, lapisan jalan mengalami penggembungan (bulging) hingga 50 cm, memaksa pengelola jalan tol PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT) melakukan pengerukan dan perataan darurat.
Dampak tidak hanya dirasakan infrastruktur jalan tol, tetapi juga meresahkan warga sekitar, terutama rumah-rumah yang hanya berjarak puluhan meter dari mahkota longsor. Kekhawatiran akan terjadinya longsor besar dalam waktu dekat kian meningkat.