Rupiah Tembus Rp17.700, Benarkah Akan Mempengaruhi Harga Minyak?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah kembali jadi sorotan setelah sempat tembus sekitar Rp17.700 per dolar AS.
Angka ini cukup tinggi dan langsung bikin banyak pihak mulai waspada, terutama karena dampaknya bisa menjalar ke sektor energi, khususnya minyak.
Salah satu alasan kenapa pelemahan rupiah ini penting banget adalah karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak. Transaksi minyak mentah dilakukan pakai dolar AS. Jadi ketika rupiah melemah, otomatis biaya impor ikut naik karena harus bayar lebih mahal dengan kurs yang lebih tinggi.
Efeknya nggak berhenti di situ. Kenaikan biaya impor ini bisa bikin beban subsidi energi ikut membengkak. Artinya, pemerintah harus keluar uang lebih banyak untuk menjaga harga BBM tetap stabil. Kalau kondisi ini berlangsung lama, tekanan ke anggaran negara (APBN) juga ikut meningkat.
Bahkan, dalam beberapa analisis, pelemahan rupiah juga bisa membuka peluang penyesuaian harga energi, terutama BBM nonsubsidi. Ini karena biaya bahan baku yang meningkat akan berpengaruh ke harga jual di dalam negeri.
Di sisi lain, pemerintah menyebut kondisi ini masih dalam kendali. Mereka sudah melakukan simulasi ulang terkait kebutuhan impor energi dengan asumsi kurs terbaru. Jadi meskipun rupiah melemah, dampaknya disebut sudah diperhitungkan sebelumnya.
Yang menarik, hubungan antara rupiah dan harga minyak ini memang dua arah. Harga minyak global yang naik bisa menekan rupiah, sementara rupiah yang melemah juga bikin impor minyak makin mahal.
Jadi, ketika dua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya bisa terasa cukup luas. Mulai dari anggaran negara, harga energi, sampai ke biaya hidup masyarakat sehari-hari.