Niat Puasa Ramadan Jangan Sampai Terlewat, Simak Aturan Batas Waktu Sebelum Fajar Dan Penjelasan Hukum Tanpa Melafalkannya

Genvoice.id | 22 Feb 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Bulan suci Ramadan 2026 sudah di depan mata, dan salah satu hal paling krusial yang sering bikin bingung adalah soal niat. Banyak dari kita yang masih bertanya-tanya, apakah niat itu harus diucapkan dengan keras atau cukup di dalam hati saja? Lalu, sampai jam berapa sebenarnya batas terakhir kita boleh berniat supaya puasa kita tetap sah dan tidak sia-sia? Masalah niat ini bukan perkara sepele karena menjadi rukun paling utama yang menentukan diterima atau tidaknya ibadah kita selama seharian penuh.

Tanpa pemahaman yang benar, bisa-bisa energi yang kita habiskan untuk menahan lapar dan dahaga jadi tidak bernilai ibadah secara syariat. Apalagi di tengah kesibukan anak muda zaman sekarang yang kadang jadwal tidurnya berantakan, risiko lupa niat sebelum fajar itu nyata banget. Itulah sebabnya, penting bagi kita untuk kembali menyimak poin-poin penting agar ibadah wajib ini berjalan lancar tanpa keraguan.

Penjelasan mengenai hal ini pun sempat dibahas secara mendalam dalam sebuah dialog keagamaan yang mencerahkan, menekankan bahwa niat adalah pondasi dari segala amal perbuatan manusia. Pemahaman yang keliru soal niat atau waktu imsak seringkali membuat orang merasa was-was saat menjalankan ibadah, padahal aturannya sebenarnya cukup simpel dan memudahkan asalkan kita paham dasarnya, nih Gen.

Dalam sebuah acara dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Malang yang berlangsung pada Minggu, 22 Februari 2026, Ustadz Khafidz Murtaji selaku Pendiri Yayasan Pendidikan Joglo Arjuno Kabupaten Malang memberikan pencerahan penting buat kita semua. Beliau menegaskan kalau niat itu rukun wajib yang wajib dipahami setiap muslim. Dasar hukumnya sangat kuat, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW yang dikutip beliau:

"Innamal a'mālu binniyāt." "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu Dan Cara Niat Yang Sah

Ustadz Khafidz menjelaskan bahwa untuk puasa wajib seperti Ramadan, niat harus sudah ada di dalam diri kita pada malam hari sebelum fajar menyingsing. Jadi, jangan sampai baru kepikiran niat pas matahari sudah nongol. Beliau merujuk pada hadis yang berbunyi:

"Man lam yubayyitish-shiyāma qabla al-fajri falā shiyāma lah." "Barang siapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Menariknya, beliau meluruskan anggapan kalau niat itu harus selalu dilafalkan atau dibaca secara lisan. Ternyata, niat itu tempatnya di dalam hati dan sudah dianggap cukup asalkan kita sadar sepenuhnya bahwa besok kita akan menjalankan puasa fardu Ramadan. Mengenai frekuensi niat, ada perbedaan pendapat antar mazhab. Ada yang membolehkan niat satu bulan penuh di awal, tapi kebanyakan ulama menyarankan untuk niat setiap malam karena tiap hari puasa dianggap sebagai satu paket ibadah yang berdiri sendiri.

Batas Makan Minum Dan Fenomena Imsak

Selain soal niat, Ustadz Khafidz juga menjelaskan tentang fajar yang jadi tanda dimulainya puasa. Ada fajar kazib yang cuma cahaya vertikal sementara, dan ada fajar shadiq yang merupakan cahaya horizontal tanda masuknya waktu Subuh. Nah, puasa baru resmi dimulai saat fajar shadiq muncul sampai matahari terbenam nanti.

Lalu bagaimana dengan waktu imsak yang sering kita dengar di masjid-masjid? Beliau menegaskan kalau imsak yang biasanya sepuluh menit sebelum Subuh itu hanyalah pengingat untuk bersiap-siap. Selama azan Subuh belum berkumandang, kalian sebenarnya masih diperbolehkan untuk menghabiskan makanan atau minuman. Sahur yang paling bagus justru yang dilakukan mepet atau mendekati waktu Subuh, sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW.