Doa Setelah Tarawih dan Witir yang Dianjurkan Rasulullah, Amalkan Tiap Malam Ramadan!

Genvoice.id | 22 Feb 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID- Ramadan menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah malam, termasuk sholat tarawih dan witir. Setelah menunaikan kedua ibadah sunnah tersebut, umat Muslim dianjurkan untuk memanjatkan doa sebagai bentuk pengharapan kepada Allah SWT.

Baginda Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam melaksanakan salat tarawih, seperti yang diterangkan dalam hadits dari Abu Hurairah, "Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengerjakan salat pada malam bulan Ramadan, tetapi tidak mewajibkannya. Beliau bersabda, "Barangsiapa yang bangun pada malam bulan Ramadan karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu."

Usai melasakana salat Tarawih, umat Islam bisa meneruskannya dengan mengamalkan doa. Doa setelah salat tarawih dan witir bukan sekadar pelengkap, tetapi juga bagian dari adab beribadah yang telah lama diamalkan. Melalui doa, seorang hamba memohon agar amalnya diterima, dosa diampuni, serta diberi keberkahan dalam kehidupan.

Keutamaan Membaca Doa Setelah Tarawih dan Witir

Salat tarawih dan witir merupakan ibadah sunnah yang memiliki kedudukan penting di bulan Ramadan. Tarawih dikerjakan setelah salat Isya hingga sebelum sahur, sedangkan witir menjadi penutup rangkaian sholat malam.

Membaca doa setelahnya dianjurkan karena waktu usai salat termasuk momen mustajab untuk berdoa, terlebih pada malam Ramadan yang penuh rahmat. Doa menjadi sarana seorang Muslim untuk memohon keteguhan iman, kemudahan menjalankan puasa, serta keselamatan dunia dan akhirat.

Bacaan Doa Setelah Sholat Tarawih

Berdasarkan buku Doa-Doa Mustajabah karya Abu Qalbina, berikut bacaan doa setelah salat Tarawih dalam tulisan arab, latin dan artinya. Doa ini juga dikenal dengan sebutan doa kamilin.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Latin: Allâhummaj'alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ'ilîn. Wa lima 'indaka thâlibîn. Wa li 'afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa 'anil laghwi mu'ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil 'âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ'I râdlîn. Wa lin na'mâ'I syâkirîn. Wa 'alal balâ'i shâbirîn. Wa tahta liwâ'i muhammadin shallallâhu 'alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ'irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa 'alâ sariirl karâmati qâ'idîn. Wa bi hûrun 'in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha'âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa 'asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka'sin min ma'în. Ma'al ladzîna an'amta 'alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ'i wash shâlihîna wa hasuna ulâ'ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi 'alîman. Allâhummaj'alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su'adâ'il maqbûlîn. Wa lâ taj'alnâ minal asyqiyâ'il mardûdîn. Wa shallallâhu 'alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma'în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil 'âlamîn.

Artinya: "Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadha-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan sahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."

Bacaan Doa Setelah Sholat Witir

Salat witir juga merupakan amalan yang dapat dijalankan pada malam bulan Ramadan. Salat sunnah malam ini dianjurkan Rasulullah SAW seperti diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA.

a berkata, "Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku untuk selalu puasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan dua rakaat Dhuha dan mengerjakan salat Witir sebelum aku tidur." (Muttafaq 'Alaih)

Usai salat witir, umat Islam dapat meneruskannya dengan membaca doa. Ditafsirkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdurahman bin Abza RA, berikut bacaan doa setelah sholat witir:

نَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، وَكَانَ إِذَا سَلَّمَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ القدوس، ثلاثا يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالْآخِرَةِ

Artinya: "Bahwa Nabi SAW salat Witir (tiga rakaat) dengan membaca 'Sabbihisma rabbikal a'la' (pada rakaat pertama), 'Qul yaa ayyuhal kaafiruun' (pada rakaat kedua), dan 'Qul huwallaahu ahad' (pada rakaat ketiga), dan setelah salam beliau membaca 'Subhanal maalikil qudduus'. Beliau membacanya tiga kali dan memanjangkannya pada bacaan yang ketiga." (HR Ahmad dan Abu Daud)

Dari hadits tersebut, maka doa yang bisa dibaca setelah salat witir adalah:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّْوْسِ

Latin: Subḥānal-malikil-quddūs. (dibaca 3 kali. Yang ketiga dipanjangkan)

Artinya: "Maha Suci Engkau penguasa yang memiliki kesucian."

Lalu, bisa ditambahkan dengan lafal:

رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

Latin: Rabbil-malā'ikati war-rūḥ. (dibaca 1x)

Artinya: "Yang menguasai para malaikat dan ruh (Jibril)."

Kemudian, sebagaimana dikutip dari buku Panduan Salat Lengkap oleh Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, diteruskan dengan bacaan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعْرَاذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.

Latin: Allahumma innī a'ūżu biriḍāka min sakhaṭika wa a'radu bimu'āfātika min 'uqūbatika wa a'ūżubika minka lā uḥṣī ṡanā'an 'alaika anta kamā aṡnaita 'alā nafsik.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan maaf-Mu dari siksaan-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari (azab)-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian atas diri-mu, Engkau seperti yang Engkau puji diri-Mu sendiri." (HR Ahmad I/96, Abu Dawud no 1427, dan Tirmidzi no 3566. Hadits landasannya dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani)

Kemudian doa dapat diakhiri dengan bacaan berikut,

وَصَلَى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّين

Latin: Wa shallalahu wa sallama 'alaa nabiyyinaa muhammadin wa aalihi wa shahbihi wa man tabi'ahum biihsaanin ilaa yaumid-diin.

Artinya: "Semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, keluarga, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat."

Waktu Terbaik Mengamalkan Doa

Doa setelah tarawih dan witir bisa dibaca setiap malam selama bulan Ramadan, baik ketika salat dilakukan berjamaah di masjid maupun sendiri di rumah. Yang terpenting adalah menghadirkan kekhusyukan, keikhlasan, dan keyakinan saat berdoa.

Dengan rutin mengamalkannya, diharapkan seorang Muslim semakin dekat dengan Allah SWT serta memperoleh keberkahan di bulan suci.