Rusia Tolak Negosiasi Keamanan Ukraina Tanpa Kehadirannya, Putin Didesak Trump untuk Bertemu Zelenskyy
JAKARTA, GENVOICE.ID - Rusia menegaskan bahwa dirinya harus menjadi bagian dari setiap pembahasan internasional terkait jaminan keamanan Ukraina. Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menyebut langkah diplomasi Eropa sebagai "upaya canggung memengaruhi Trump" dan memperingatkan bahwa pembicaraan apa pun tanpa Moskow adalah jalan buntu.
Pernyataan itu muncul di tengah dorongan Donald Trump untuk mempertemukan Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy dalam pertemuan bersejarah pertama sejak invasi penuh Rusia pada 2022. Trump mengklaim sudah memulai "pengaturan awal" untuk mempertemukan kedua pemimpin, bahkan mengatakan ingin memberi kesempatan bagi mereka untuk bertemu secara langsung.
Namun Kremlin tampaknya tidak terburu-buru. Putin selama ini hampir tak pernah menyebut nama Zelenskyy secara langsung, lebih sering menyebutnya sebagai "rezim Kyiv." Ia bahkan berulang kali meragukan legitimasi Zelenskyy, menyatakan bahwa presiden Ukraina tidak memiliki wewenang sah untuk menandatangani perjanjian damai.
Situasi ini membuat Putin berada di posisi dilematis. Jika menolak tawaran Trump, ia berisiko merusak hubungannya dengan Washington. Tetapi jika menyetujuinya, Putin secara tidak langsung akan menempatkan Zelenskyy setara dengannya di mata dunia, sesuatu yang selama ini ia hindari.
Lavrov menegaskan bahwa setiap rencana pertemuan harus diatur dengan sangat hati-hati. Ia juga mengusulkan agar China - sekutu Rusia dalam perang - dilibatkan sebagai salah satu penjamin keamanan Ukraina, sebuah gagasan lama yang sebelumnya sempat muncul dalam negosiasi Turki pada 2022. Namun, bagi Kyiv, keterlibatan Beijing jelas akan dipandang dengan curiga.
Sementara itu, analis menilai Putin tidak akan bersedia duduk bersama Zelenskyy kecuali Ukraina menerima syarat maksimalis Rusia: mulai dari menolak keanggotaan Nato, melakukan "demiliterisasi," hingga "denazifikasi," sebuah istilah samar yang pada praktiknya berarti penghapusan pemerintahan Zelenskyy.
Tatiana Stanovaya, peneliti senior di Carnegie Russia Eurasia Center, menilai bahwa pertemuan hanya akan terjadi jika Zelenskyy bersedia tunduk. "Putin tidak melihat nilai dalam pertemuan kecuali berujung pada kapitulasi," ujarnya.
Di sisi lain, Rusia masih memperlihatkan sikap keras. Lavrov menyebut Amerika Serikat mulai memahami "akar penyebab" konflik, istilah yang sering digunakan Putin untuk merujuk pada tuntutan strategis Moskow. Pejabat Rusia juga dilaporkan tengah mempersiapkan kebijakan kenaikan pajak dan pemangkasan anggaran domestik demi menjaga pembiayaan perang.
Dengan posisi ini, Kremlin tampaknya berusaha menunda tanpa menutup pintu sepenuhnya. Bagi Putin, strategi menahan waktu bisa menjadi cara untuk meredam tekanan Trump, sekaligus mempertahankan narasi bahwa hanya Rusia yang menentukan syarat perdamaian.