Basarnas Perluas Pencarian Korban KM Nurul Salsa hingga Perairan NTB
JAKARTA, GENVOICE.ID - Operasi pencarian korban tenggelamnya KM Nurul Salsa memasuki hari keenam dengan jangkauan yang semakin luas. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperluas area penyisiran hingga perairan Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah memperhitungkan arah pergerakan arus laut yang diduga membawa korban menjauh dari lokasi awal kejadian.
Hingga saat ini, masih ada 18 penumpang yang dinyatakan belum ditemukan. Tim SAR gabungan terus mengoptimalkan pencarian dengan melibatkan armada laut, dukungan udara, serta bantuan nelayan di sekitar wilayah operasi.
Direktur Operasi Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo, mengatakan area pencarian kini difokuskan ke arah barat daya dengan cakupan mencapai 1.980 mil laut. Wilayah tersebut dibagi menjadi lima sektor agar proses penyisiran dapat dilakukan lebih efektif.
Berdasarkan analisis arus pada hari keenam operasi, Basarnas memperkirakan korban kemungkinan telah bergeser menuju wilayah NTB, khususnya di sekitar Pulau Bima.
Untuk mendukung pencarian di area yang lebih luas, TNI Angkatan Laut mengerahkan dua kapal dari Satuan Patroli Armada II, yakni KRI Marlin 577 dan KRI Hiu 634. Sementara itu, Basarnas menurunkan empat kapal, yaitu KN SAR Kamajaya, KN SAR Pacitan, KN SAR Puntadewa, serta KN SAR RB 220 sebagai tambahan kekuatan di lapangan.
Operasi juga mendapat dukungan dari masyarakat melalui sejumlah kapal nelayan, di antaranya KM Harapan Kita, KM Mato Angin, dan KM Bari-Baria. Kapal-kapal tersebut sebelumnya berperan dalam menemukan dua korban selamat di Pulau Balaloho pada Minggu, 19 Juli 2026.
Meski pencarian terus diperluas, tim SAR masih menghadapi tantangan berupa kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Gelombang laut setinggi 2 hingga 2,5 meter menjadi salah satu kendala yang memengaruhi pergerakan armada di lokasi operasi.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Basarnas juga memanfaatkan dukungan pemantauan dari udara. Sebuah pesawat Boeing Intai Patmar 737 milik Lanud Hasanuddin Makassar dikerahkan guna membantu mengawasi area pencarian dan mengidentifikasi kemungkinan keberadaan korban.
Operasi SAR awalnya dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari dan berakhir pada Selasa, 21 Juli 2026. Namun, Basarnas menyatakan masih membuka kemungkinan memperpanjang masa pencarian apabila evaluasi di lapangan menunjukkan upaya tersebut masih diperlukan.
Yudhi menjelaskan keputusan mengenai perpanjangan operasi akan ditentukan setelah dilakukan evaluasi bersama seluruh unsur yang terlibat, termasuk Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Jika disepakati, operasi pencarian dapat diperpanjang hingga tiga hari untuk memaksimalkan peluang menemukan seluruh korban yang masih hilang.