Rusia Tak Mau Kendur, Tetap Kukuh dengan Tuntutan Perangnya Meski Ditekan Trump
JAKARTA, GENVOICE.ID - Konflik antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.244, namun jalan menuju perdamaian masih tampak jauh dari kenyataan. Meskipun Kremlin menyatakan terbuka untuk negosiasi, mereka tetap bersikukuh pada syarat-syarat yang selama ini ditolak keras oleh Ukraina dan sekutunya: penarikan pasukan Ukraina dari wilayah yang dianeksasi Rusia serta penghapusan ambisi Ukraina untuk bergabung dengan NATO.
"Tujuan kami jelas," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada televisi pemerintah Rusia, Minggu (21/7). Ia menegaskan bahwa pencapaian tujuan strategis Rusia tetap menjadi prioritas utama, tak peduli tekanan internasional yang meningkat.
Melansir dari The Guardian, Senin (21/7), pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih keras terhadap Rusia jika tidak ada kesepakatan damai dalam waktu 50 hari. Trump juga mengumumkan dimulainya kembali pengiriman senjata dari AS ke Ukraina sebagai bentuk dukungan nyata terhadap Kyiv.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan bahwa pihaknya telah mengusulkan babak baru perundingan damai, namun hingga kini belum ada tanggal yang disepakati. Istanbul disebut-sebut masih menjadi kandidat lokasi utama pertemuan, menurut laporan media pemerintah Rusia.
Di lapangan, situasi kian memanas. Serangan udara Rusia terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Senin (22/7) menewaskan sedikitnya satu orang dan membakar bangunan sekolah, toko, serta rumah warga. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan bahwa empat distrik menjadi sasaran, termasuk stasiun metro Lukyanivska yang ikut mengalami kerusakan.
Di sisi lain, Uni Eropa kembali mengetatkan sanksi terhadap Rusia lewat paket ke-18 yang menyasar sektor energi, termasuk kilang milik Nayara Energy di India, yang sebagian sahamnya dimiliki Rosneft - produsen minyak terbesar Rusia. Rosneft menilai langkah tersebut tak berdasar dan membahayakan ketahanan energi India. Meski Rosneft hanya memiliki kurang dari 50% saham Nayara, perusahaan itu tetap dijerat dalam sanksi.
Serangan drone juga terus berlanjut. Dua perempuan terluka di wilayah Zaporizhzhia setelah rumah mereka dihantam drone pada Minggu, sementara serangan di Kharkiv melukai dua warga lainnya. Di Sumy, seorang ibu dan anaknya yang berusia tujuh tahun mengalami luka setelah drone menghantam taman kota, memutus jaringan listrik yang memasok sekitar 100 rumah.
Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh 18 dari 57 drone tipe Shahed dan umpan yang diluncurkan Rusia, sementara tujuh lainnya hilang dari radar. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pihaknya juga menembak jatuh 93 drone Ukraina yang menyerang wilayahnya - termasuk 15 yang diarahkan ke Moskow.
Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, menyatakan 10 drone lagi digagalkan sebelum mencapai ibu kota. Satu drone bahkan menghantam apartemen di kawasan Zelenograd, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Meski diplomasi masih dibicarakan, kenyataan di medan tempur menunjukkan bahwa akhir dari perang ini tampaknya masih jauh dari harapan.