Negara-negara Selatan Harus Aktif Desak Agenda Reformasi Keuangan Global
JAKARTA - Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata, menyeru negara-negara Selatan lebih aktif mendesak agenda reformasi keuangan global.
"Momentum ini penting untuk memulihkan keseimbangan dalam tata kelola ekonomi dunia yang lebih adil dan setara," katanya, Minggu (20/7), menanggapi pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (FMCBG) di Afrika Selatan, baru-baru ini.
Ia menilai reformasi arsitektur keuangan global sangat penting mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), penanganan krisis iklim, dan pengurangan ketimpangan global antara negara-negara Utara dan Selatan.
Menurut Aloysius, arsitektur keuangan global baru disebut inklusif jika pembangunannya juga inklusif, yaitu mencakup kebutuhan negara-negara berkembang dan tertinggal, bukan hanya negara maju.
Sistem ini, jelasnya, kini lebih dikendalikan oleh lembaga-lembaga seperti Bank Dunia dan IMF yang telah lama kehilangan kemampuan untuk merespons kompleksitas tantangan global.
"Mereka seolah tidak memiliki badan pengawas yang mampu mengontrol keputusan-keputusannya. Padahal kebijakan yang diambil seringkali berdampak buruk pada negara-negara Selatan," tegas Aloysius.
Salah satu isu besar, lanjutnya, adalah jeratan utang luar negeri yang semakin memperlemah daya tahan negara-negara berkembang dalam menghadapi krisis. "Beban utang ini merusak debt sustainability, dan makin diperparah oleh krisis iklim yang menciptakan bencana beruntun," jelasnya.
Aloysius menilai bahwa pembangunan berbasis utang yang terus digencarkan lembaga keuangan global berisiko menjadi alat perpanjangan neokolonialisme. "Perubahan arsitektur keuangan global haruslah substansial. Keadilan harus menjadi intinya. Sudah waktunya menyingkirkan praktik-praktik yang masih menyimpan jejak kolonialisme," katanya.
Tinjau Kembali
Sebelumnya, dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (FMCBG) di Afrika Selatan, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrwati menekankan pentingnya arsitektur keuangan global yang mencakup seluruh spektrum perekonomian, baik negara maju, berkembang, maupun berpenghasilan rendah.
Saat ini, G20 tengah mendorong implementasi Peta Jalan Bank Pembangunan Multilateral (MDBs) dan rekomendasi dari Capital Adequacy Framework (CAF).
Munculnya teknologi keuangan, mulai dari aset kripto hingga mata uang digital, menawarkan potensi besar dalam hal kecepatan dan efisiensi. Namun, perkembangan itu juga membawa risiko-risiko baru yang tidak dapat diabaikan.
Situasi tersebut menuntut negara-negara G20 untuk meninjau kembali fondasi dari arsitektur keuangan internasional guna memastikan bahwa sistem tersebut tetap stabil, inklusif, dan relevan dalam menghadapi dunia yang terus berkembang dengan cepat.
Adapun selama pertemuan yang berlangsung pada 17-18 Juli 2025, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral membahas berbagai isu yang menjadi prioritas negara G20 dan perlu mendapatkan perhatian bersama untuk menghadapi tantangan global saat ini.
Selain arsitektur keuangan internasional, isu-isu yang diangkat dalam pertemuan tersebut utamanya yakni ekonomi global, keuangan berkelanjutan, infrastruktur, sektor keuangan, pajak internasional, dan kesehatan global.
Terkait ekonomi global dan tantangan terkini, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral menyoroti ketidakpastian ekonomi global akibat konflik bersenjata, tensi geopolitik, fragmentasi perdagangan, utang publik tinggi, dan kejadian iklim ekstrem.