Rupiah Melemah, Ini Dampak Nyata yang Terjadi di Kehidupan Sehari-hari
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah kurs dolar sempat menyentuh angka Rp17.685 pada pertengahan Mei 2026. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di masyarakat karena pelemahan rupiah dinilai bisa berdampak langsung terhadap kebutuhan sehari-hari.
Dosen Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Imelda Dian Rahmawati SE MAk Ak, menjelaskan bahwa naiknya dolar AS tidak hanya dipengaruhi konflik global, tetapi juga kondisi ekonomi dalam negeri.
Menurutnya, faktor seperti defisit impor, utang luar negeri, hingga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia turut memengaruhi pergerakan rupiah. Selain itu, kebijakan ekonomi Amerika Serikat juga memiliki efek besar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Ketika suku bunga Amerika naik, investor cenderung memindahkan dananya ke aset dolar karena dianggap lebih aman dan menguntungkan," ujarnya.
Dr Imelda menambahkan, konflik geopolitik dunia dan ketidakpastian ekonomi global membuat dolar semakin diburu investor sebagai safe haven atau aset aman. Akibatnya, nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah belum tentu menandakan Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. Kondisi tersebut masih perlu dilihat bersama indikator lain seperti daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, hingga stabilitas perbankan.
Namun, dampak pelemahan rupiah tetap mulai dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut beberapa dampak yang paling terasa ketika rupiah melemah terhadap dolar AS:
-
Harga Barang Impor Naik
Pelemahan rupiah membuat harga barang impor menjadi lebih mahal. Dampaknya bisa dirasakan pada produk elektronik, gadget, kosmetik, hingga bahan pangan tertentu yang masih bergantung pada impor. -
Biaya Hidup Meningkat
Ketika harga barang impor naik, biaya produksi ikut meningkat. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi dan membuat harga kebutuhan sehari-hari ikut naik di pasaran. -
Harga BBM dan Energi Bisa Terdampak
Transaksi minyak dunia menggunakan dolar AS. Saat rupiah melemah, biaya impor energi menjadi lebih mahal sehingga berpotensi memengaruhi harga BBM maupun tarif energi lainnya. -
Biaya Pendidikan dan Kesehatan Bertambah
Masyarakat yang memiliki rencana studi di luar negeri akan merasakan dampak langsung karena biaya kuliah dan kebutuhan hidup menjadi lebih mahal. Selain itu, alat kesehatan dan obat-obatan impor juga berpotensi mengalami kenaikan harga. -
Pelaku Usaha Kena Tekanan
UMKM maupun perusahaan yang menggunakan bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi. Sektor seperti elektronik, otomotif, farmasi, dan manufaktur disebut menjadi yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah. -
Utang Luar Negeri Membengkak
Perusahaan atau pemerintah yang memiliki utang dalam bentuk dolar harus mengeluarkan biaya lebih besar saat rupiah melemah. Hal ini bisa memengaruhi kondisi keuangan dalam jangka panjang.
Meski membawa banyak tantangan, pelemahan rupiah ternyata juga bisa memberikan keuntungan bagi sektor tertentu. Produk ekspor Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga berpotensi meningkatkan daya saing.
Selain itu, sektor pariwisata juga dinilai bisa diuntungkan karena biaya liburan di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing.
Dr Imelda menyarankan masyarakat mulai memperkuat kondisi finansial dengan mengurangi konsumsi barang impor yang tidak terlalu penting, memperbanyak dana darurat, hingga mencari sumber penghasilan tambahan.
Ia juga menilai kemampuan digital dan keterampilan adaptif menjadi penting di tengah tekanan ekonomi global yang terus berubah.
"Masyarakat perlu meningkatkan literasi keuangan dan tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan," katanya.
Selain itu, dukungan terhadap produk lokal juga dinilai penting agar ketergantungan terhadap barang impor bisa berkurang di masa mendatang.