Lebaran di Bali Penuh Toleransi, Ribuan Warga Lintas Agama Ziarah di Kampung Wanasari
JAKARTA, GENVOICE.ID - Ribuan warga lintas agama menjalankan tradisi ziarah saat Idul Fitri 1447 Hijriah di Pemakaman Muslim Wanasari Maruti 13 atau dikenal sebagai Kampung Wanasari di Denpasar, Provinsi Bali, Sabtu. Tradisi ini tidak hanya diikuti umat Islam, tetapi juga masyarakat non-Muslim yang memiliki keluarga dimakamkan di lokasi tersebut.
Ketua Pemakaman Muslim Wanasari, Abdul Hakim, mengatakan makam tersebut memang diperuntukkan bagi Muslim, namun karena masyarakat Bali hidup dalam keberagaman, banyak keluarga berbeda agama tetap datang untuk berziarah.
Menurutnya, tidak ada larangan bagi siapa pun untuk datang selama berpakaian sopan dan menjaga ketertiban. Para peziarah biasanya sudah mulai berdatangan sejak sepekan sebelum Lebaran untuk membersihkan makam dan menabur bunga.
Tradisi ziarah tahun ini juga dipengaruhi perayaan Nyepi yang jatuh beberapa hari sebelumnya, sehingga umat Muslim maupun Hindu harus mengatur jadwal karena saat Nyepi tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di luar rumah.
Puncak ziarah terjadi pada hari Lebaran setelah salat Idul Fitri, ketika masyarakat berbondong-bondong datang ke pemakaman untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal.
Dalam kondisi normal, jumlah peziarah berkisar 100 hingga 150 orang per hari, namun menjelang Lebaran bisa mencapai ribuan orang. Untuk mengakomodasi pengunjung, pengelola membuka area makam hingga pukul 18.00 WITA serta menyediakan fasilitas pendukung seperti air minum bagi peziarah.
Suasana toleransi tidak hanya terlihat di dalam area makam, tetapi juga di sekitarnya. Pedagang bunga di depan pemakaman tidak hanya berasal dari umat Islam, tetapi juga warga Hindu setempat yang sudah berjualan secara turun-temurun.
Salah satu peziarah, Nyoman Menu, mengatakan tradisi ziarah tetap dijalankan keluarganya meski memiliki latar belakang agama berbeda. Ia datang bersama anak dan cucunya untuk mendoakan almarhum suaminya yang dimakamkan di Kampung Wanasari.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya dilakukan saat Idul Fitri, tetapi juga pada waktu-waktu lain sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah meninggal.