Mengenal New Administrative Capital: Ibu Kota Baru Mesir yang Dibangun dari Gurun, Siap Jadi Kota Masa Depan, Super Mewah!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Mesir resmi masuk dalam daftar negara yang membangun ibu kota baru dari nol. Kota tersebut bernama New Administrative Capital (NAC), sebuah megaproyek ambisius yang dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan modern Mesir sekaligus simbol era baru negara tersebut. Dibangun di tengah gurun pasir, NAC menjadi salah satu proyek urban terbesar di dunia saat ini.
New Administrative Capital terletak sekitar 45 kilometer di sebelah timur Kairo, tepat di antara Kairo dan Terusan Suez. Lokasi ini dipilih untuk mengurangi beban Kairo yang selama puluhan tahun mengalami kepadatan penduduk, kemacetan parah, serta tekanan infrastruktur yang terus meningkat.
Pembangunan NAC pertama kali diumumkan pada 2015 oleh pemerintah Mesir di bawah kepemimpinan Presiden Abdel Fattah el-Sisi. Tujuan utamanya menciptakan ibu kota administratif baru yang lebih tertata, modern, dan berbasis teknologi, tanpa menghapus peran historis Kairo sebagai pusat budaya dan ekonomi.
Kota ini dirancang untuk menampung lebih dari 6 juta penduduk dalam jangka panjang. Di dalamnya terdapat distrik pemerintahan yang akan menjadi rumah bagi kantor presiden, parlemen, dan hampir seluruh kementerian Mesir. Selain itu, NAC juga dilengkapi dengan kawasan bisnis internasional, perumahan, pusat pendidikan, rumah sakit, hingga ruang hijau raksasa.
Salah satu ikon utama New Administrative Capital adalah Iconic Tower, gedung pencakar langit tertinggi di Afrika. Bangunan ini menjadi simbol ambisi Mesir untuk tampil sebagai kekuatan regional modern. Selain itu, terdapat pula Green River Park, taman memanjang yang digadang-gadang akan menjadi salah satu ruang hijau terbesar di dunia, membentang di jantung kota.
Meski sering disebut sebagai ibu kota baru Mesir, status NAC saat ini lebih tepat disebut sebagai ibu kota administratif. Sejumlah kementerian dan lembaga negara sudah mulai beroperasi di sana sejak 2022, dan berbagai kegiatan pemerintahan resmi telah berlangsung. Namun, Kairo masih tetap diakui sebagai ibu kota negara secara konstitusional.
Pemerintah Mesir menerapkan strategi perpindahan bertahap agar roda pemerintahan tetap stabil. Pembangunan NAC sendiri masih terus berlanjut dan diproyeksikan berkembang selama beberapa dekade ke depan.
Lebih dari sekadar pemindahan pusat pemerintahan, New Administrative Capital mencerminkan visi Mesir untuk membangun kota masa depan, lebih ramah lingkungan, berbasis teknologi, dan terencana sejak awal. Kota ini diharapkan menjadi wajah baru Mesir di mata dunia, sekaligus solusi jangka panjang atas persoalan urbanisasi ekstrem.
Dengan skala dan ambisinya, New Administrative Capital bukan hanya proyek infrastruktur, melainkan simbol transformasi besar Mesir menuju era modern.