Bioskop Milik Negara Sinewara Siap Hadir 2027, Bakal Saingi XXI dan CGV?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Industri bioskop Indonesia bakal memiliki pemain baru yang berbeda dari jaringan bioskop swasta yang selama ini dikenal masyarakat. Perusahaan Produksi Film Negara (PFN) tengah menyiapkan bioskop milik negara bernama Sinewara yang ditargetkan mulai hadir pada 2027.
Rencana tersebut menjadi langkah baru PFN untuk masuk lebih jauh ke sektor penayangan film. Kehadiran Sinewara juga diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan jumlah layar bioskop yang masih terbatas dan belum tersebar secara merata di berbagai daerah Indonesia.
Sinewara Disiapkan Jadi Bioskop Negara
Rencana pembangunan Sinewara sebelumnya disampaikan Direktur Utama PFN Riefian Fajarsyah atau yang dikenal sebagai Ifan Seventeen. Ia menyebut bioskop tersebut akan menjadi bioskop negara pertama yang dikembangkan oleh PFN.
"Insya Allah Ketua, itu PFN akan mendirikan bioskop negara pertama yang bernama Sinewara," kata Ifan Seventeen.
Kehadiran Sinewara tidak hanya diarahkan untuk menambah jumlah tempat menonton film di Indonesia. PFN juga ingin menjadikan proyek tersebut sebagai langkah awal untuk mengembangkan jaringan bioskop milik negara di berbagai wilayah.
Jika pembangunan dan pengelolaan Sinewara dapat berjalan sesuai rencana, model tersebut diharapkan bisa diterapkan di daerah lain. Dengan begitu, akses masyarakat terhadap layar bioskop dapat diperluas sekaligus membuka peluang pertumbuhan industri perfilman di luar pusat-pusat kota besar.
Berlokasi di Jakarta Timur
Sinewara direncanakan berdiri di Jalan Otista Raya, Jatinegara, Jakarta Timur. Lokasi tersebut berada di kawasan yang sama dengan kantor pusat PFN sehingga menjadi titik awal pengembangan bisnis bioskop milik negara.
Pemilihan Jakarta Timur sebagai lokasi perdana juga menjadi bagian dari strategi PFN untuk menguji konsep Sinewara sebelum dikembangkan lebih luas. Perusahaan membuka kemungkinan agar proyek tersebut nantinya dapat menjadi pemicu munculnya bioskop negara di daerah lain.
"Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini," ujar Ifan.
PFN juga membuka kesempatan bagi pihak lain yang tertarik ikut mengembangkan bisnis Sinewara. Bentuk kerja sama yang ditawarkan antara lain melalui skema kepemilikan saham atau shareholder.
Masih Banyak Daerah Minim Layar Bioskop
PFN melihat pembangunan Sinewara sebagai respons terhadap persoalan distribusi layar bioskop yang belum merata. Berdasarkan data yang disampaikan PFN, jumlah layar bioskop di Indonesia saat ini berada di kisaran 2.400 layar.
Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat karena persebarannya masih terkonsentrasi di wilayah tertentu. Akibatnya, sebagian besar kabupaten dan kota di Indonesia belum memiliki akses yang memadai terhadap fasilitas bioskop.
"Tingkat penyebarannya sangat tidak rata. Bahkan hanya 25 persen sampai 30 persen daripada kabupaten kota yang ada di Indonesia yang mempunyai layar," tutur Ifan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan PFN mendorong pengembangan bioskop negara. Sinewara diharapkan tidak berhenti sebagai proyek tunggal di Jakarta, tetapi dapat menjadi contoh untuk memperluas akses layar ke wilayah lain yang selama ini belum memiliki bioskop.
Apakah Sinewara Bakal Saingi XXI dan CGV?
Kehadiran Sinewara tentu berpotensi menambah persaingan di industri bioskop nasional. Selama ini, masyarakat sudah mengenal sejumlah jaringan bioskop besar seperti XXI dan CGV yang memiliki jaringan di berbagai kota.
Namun, PFN tidak semata-mata memosisikan Sinewara sebagai pesaing jaringan bioskop yang sudah ada. Bioskop tersebut juga diarahkan menjadi bagian dari ekosistem perfilman yang dapat memberikan ruang lebih luas bagi film nasional untuk menjangkau penonton.
Konsep tersebut membuat Sinewara memiliki misi yang lebih luas dibandingkan sekadar menyediakan tempat untuk menonton film. PFN ingin memperkuat hubungan antara produksi film, distribusi, hingga akses penayangan sehingga karya sineas Indonesia memiliki kesempatan lebih besar untuk bertemu dengan penontonnya.
Kehadiran bioskop milik negara juga diharapkan dapat menjadi salah satu solusi atas ketimpangan akses layar di Indonesia. Jika target pembangunan Sinewara pada 2027 terealisasi, proyek tersebut akan menjadi babak baru dalam perkembangan industri bioskop sekaligus ekosistem perfilman nasional.