Kisah Pilu di Balik Hari Kartini: Wafat 4 Hari Usai Melahirkan karena Preeklampsia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Setiap 21 April, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini dengan penuh semangat. Sosok Raden Ajeng Kartini dikenang sebagai pelopor emansipasi perempuan yang gagasannya terus hidup hingga kini. Namun di balik perayaan tersebut, tersimpan kisah duka yang jarang dibahas.
Kartini meninggal dunia di usia yang sangat muda, yakni 25 tahun. Ia wafat bukan di medan perjuangan, melainkan dalam momen yang seharusnya menjadi salah satu fase paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan, setelah melahirkan anak pertamanya.
Catatan sejarah menyebutkan, Kartini menghembuskan napas terakhir pada 17 September 1904 di Rembang, hanya empat hari setelah melahirkan putranya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, pada 13 September 1904. Awalnya, kondisi Kartini tampak baik-baik saja. Ia hanya mengeluhkan rasa tidak nyaman di bagian perut. Namun dalam waktu singkat, kondisinya memburuk secara drastis.
Berdasarkan berbagai sumber sejarah dan medis, penyebab wafatnya Kartini diduga kuat berkaitan dengan preeklampsia, komplikasi kehamilan yang berbahaya. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein dalam urin, serta gangguan pada organ tubuh, terutama ginjal.
Gejala preeklampsia bisa berupa sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, hingga pembengkakan pada tubuh, yang membuatnya semakin berbahaya, kondisi ini sering kali sulit terdeteksi sejak awal. Jika tidak ditangani dengan cepat, preeklampsia dapat berkembang menjadi eklampsia, yang memicu kejang dan berisiko fatal bagi ibu maupun bayi.
Menurut World Health Organization, preeklampsia dan eklampsia menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di dunia. Kondisi ini bahkan menyumbang sekitar 14 persen dari total kasus kematian ibu secara global.
Kisah wafatnya Kartini menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak hanya soal pendidikan dan kesetaraan, tetapi juga tentang kesehatan dan keselamatan, terutama bagi ibu hamil. Di balik pemikirannya yang maju dan keberaniannya melawan batasan zaman, Kartini juga menjadi bagian dari realitas pahit yang masih relevan hingga saat ini.
Hari Kartini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan simbolis. Lebih dari itu, momen ini juga bisa menjadi refleksi akan pentingnya menjaga kesehatan ibu, karena satu kehidupan ibu berarti masa depan generasi berikutnya.
Warisan pemikiran Raden Ajeng Kartini memang abadi. Namun kisah kepergiannya mengajarkan satu hal penting, yaitu perjuangan perempuan juga mencakup hak untuk hidup sehat dan mendapatkan perawatan yang layak.