Komnas PA Surabaya Soroti Bahaya Roblox, Nilai Larangan Saja Tak Cukup Lindungi Anak

Genvoice.id | 20 Jan 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya menyoroti maraknya permainan daring, khususnya Roblox, yang dinilai mengandung konten berbahaya bagi anak-anak.

Ketua Komnas PA Kota Surabaya, Syaiful Bachri, menegaskan bahwa pelarangan semata tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan, melainkan harus disertai pendekatan yang sistematis dan edukatif.

Sorotan ini menguat setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti melarang anak-anak memainkan Roblox. Gim tersebut disebut memuat berbagai konten negatif, mulai dari kekerasan, pornografi, sadisme, horor, pergaulan bebas, hingga inses.

"Kami melihat ada sekitar 15 gim di dalam Roblox yang teridentifikasi paling berbahaya dan berpotensi diakses anak-anak. Kontennya mengarah pada pornografi, sadisme, horor, kecemasan, pergaulan bebas, bahkan sedarah. Ini menunjukkan bahwa akses teknologi tanpa pengawasan orang dewasa dapat berdampak serius pada kondisi psikologis anak," ujar Syaiful, Senin (11/8/2025).

Menurut Syaiful, teknologi ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi dapat memberikan manfaat besar jika digunakan secara tepat, namun di sisi lain berpotensi membahayakan anak apabila tidak disertai kontrol dan pendampingan dari orang tua.

Ia menjelaskan, Roblox sejatinya dirancang sebagai ruang bermain anak. Namun, persoalan muncul karena tidak semua orang tua maupun guru memahami isi dan dinamika di dalam permainan tersebut, termasuk adanya konten kekerasan dan manipulasi psikologis.

"Masalahnya, pemain bisa berkomunikasi dengan siapa saja, kecuali jika orang tua mengatur kontrol khusus. Kita tidak tahu dengan siapa anak berinteraksi secara daring. Belum lagi dorongan pembelian dalam gim yang juga perlu diwaspadai," jelas Syaiful, yang juga menjabat Wakil Ketua Komnas Anak Jawa Timur.

Syaiful menambahkan, bentuk kekerasan pada anak saat ini semakin beragam. Anak-anak tidak lagi sekadar meniru perilaku agresif secara spontan, tetapi juga terpengaruh oleh apa yang mereka lihat dan mainkan di gim daring.

"Kalau dulu anak bertengkar karena emosi, sekarang caranya berbeda. Mereka meniru apa yang dilihat. Di dalam gim ada instruksi, dan anak sering menganggap itu sebagai perintah yang harus dilakukan," katanya.

Melihat kompleksitas tersebut, Syaiful menilai pelarangan Roblox saja tidak akan efektif. Ia mengusulkan empat langkah strategis untuk menangani dampak negatif gim daring. Pertama, keterlibatan aktif pemerintah, termasuk Kementerian Kominfo dan DPR RI Komisi I, bersama tokoh masyarakat dan agama dalam hal regulasi, sensor, pelarangan, serta pengawasan.

Kedua, pendekatan substitusi dengan mengganti gim bermasalah dengan alternatif yang lebih aman dan edukatif. Ia juga mendorong lahirnya kreator gim lokal yang mengangkat budaya dan permainan tradisional ke dalam platform digital. Ketiga, pendekatan komplementasi, yakni menyediakan gim serupa namun sarat nilai pendidikan karakter berbasis Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, olahraga, dan budaya lokal.

Keempat, penguatan kerja sama lintas sektor untuk melindungi anak sebagai aset generasi emas Indonesia 2045, dengan melibatkan Kominfo, Kementerian Pendidikan, Pariwisata, Industri Kreatif, serta pemangku kepentingan lainnya.

Syaiful menegaskan, peran pemerintah dari tingkat pusat hingga RT/RW, serta kolaborasi sekolah dan orang tua, sangat penting dalam menciptakan ruang digital yang aman dan edukatif. Ia mengingatkan bahwa larangan tanpa edukasi justru dapat memicu rasa penasaran anak.

"Perlu pendampingan yang bijak dalam menyikapi gim, baik yang berpotensi negatif maupun positif. Jangan hanya melihat gimnya, tapi nilai apa yang ditanamkan di sana. Orang tua jangan abai terhadap tumbuh kembang anak di era digital," tutupnya.