ASEAN Tetapkan Siaga Level 3 Gegara Kabut Asap Karhutla Indonesia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia berdampak hingga sejumlah negara Asia Tenggara. Kondisi tersebut mendorong Pusat Meteorologi Khusus ASEAN atau ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mengaktifkan status siaga Level 3, tingkat tertinggi dalam sistem peringatan kabut asap di kawasan tersebut.
Polusi udara yang berlangsung selama berbulan-bulan dilaporkan mengganggu aktivitas masyarakat di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste. Dampaknya meliputi penutupan sekolah, meningkatnya gangguan pernapasan, hingga pembatasan kegiatan di luar ruangan.
Dalam pemberitahuan di situs resminya pada Jumat, ASMC menyatakan telah mengaktifkan "Alert Level 3 for the Southern ASEAN region" atau status siaga Level 3 untuk kawasan ASEAN bagian selatan. Status ini diberlakukan ketika risiko kabut asap lintas batas yang parah meningkat dan kabut asap dengan intensitas sedang hingga pekat meluas selama sedikitnya dua hari berturut-turut.
ASMC juga tercatat telah mengeluarkan dua peringatan Level 3 sepanjang 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kabut asap lintas batas masih menjadi tantangan bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Singapura dan Kuala Lumpur Terdampak Polusi Udara
Pada Sabtu, Singapura menempati posisi kedua dalam daftar langsung kota-kota besar paling berpolusi di dunia versi IQAir, setelah Baghdad, Irak. Sementara itu, Kuala Lumpur berada di posisi ketiga dengan kualitas udara yang dilaporkan berada dalam kategori sangat berbahaya.
Dampak kabut asap turut dirasakan masyarakat Malaysia yang harus menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Seorang guru berusia 39 tahun bernama Zul Hafiz mendesak negara-negara ASEAN mengambil tindakan untuk menghentikan persoalan tersebut.
"Masalah ini harus dihentikan," kata Zul Hafiz kepada AFP pada Sabtu ketika bersepeda dari Shah Alam menuju Kuala Lumpur.
Keluhan serupa disampaikan Khairul Azhar, pegawai bank berusia 33 tahun di Kuala Lumpur. Ia menilai kabut asap mengganggu kegiatan warga Malaysia, termasuk aktivitas yang biasanya dilakukan saat akhir pekan.
"Hal ini mengganggu rutinitas akhir pekan kami, bukan hanya kami, tetapi juga banyak warga Malaysia lainnya," ujarnya kepada AFP.
Di Timor Leste, kualitas udara pada Sabtu juga dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat, termasuk di ibu kota Dili. Pihak berwenang memperingatkan kondisi tersebut berpotensi memburuk dan mengambil langkah menutup sekolah-sekolah.
BNPB Sebar 2,4 Ton Es Kering di Sumatera Selatan
Di Indonesia, upaya penanganan kabut asap dilakukan di salah satu bandara utama di Sumatera Selatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan telah menyebarkan 2,4 ton es kering menggunakan pesawat untuk membantu mengatasi kabut asap.
"Asap tidak hanya mengurangi jarak pandang dan mengganggu operasional penerbangan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat," demikian peringatan badan tersebut.
Sementara itu, warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah, juga menghadapi kabut asap tebal yang membuat langit tampak kuning hingga jingga. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memengaruhi kesehatan dan pendapatan masyarakat.
Marzuki, mekanik berusia 38 tahun di Palangkaraya, mengatakan kabut asap memperburuk keadaan ekonomi warga yang sudah menghadapi kesulitan. Ia bahkan menilai kondisi tahun ini lebih buruk dibandingkan sejumlah kejadian kabut asap besar sebelumnya, termasuk pada 2015.
"Kondisi ekonomi saat ini sudah sangat sulit, dan kabut asap justru membuatnya semakin buruk," kata Marzuki kepada AFP.
Marzuki berharap hujan segera turun agar kebakaran bisa dipadamkan dan kabut asap menghilang. Dengan begitu, masyarakat dapat kembali beraktivitas dan mencari nafkah secara normal.
Pekerja Harian Tetap Beraktivitas di Tengah Kabut Asap
Kabut asap juga menempatkan pekerja harian dalam situasi sulit karena mereka tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Joko, pekerja konstruksi berusia 51 tahun, mengaku mengalami kesulitan bernapas dan mata perih akibat paparan asap.
"Asap tebal yang terhirup membuat kami sulit bernapas dan mata terasa perih. Namun, mau bagaimana lagi? Inilah cara kami mencari nafkah," kata Joko.
Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki penghasilan tetap sehingga harus terus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Situasi tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi masyarakat yang tidak dapat menghentikan aktivitas meski kualitas udara memburuk.
Di sisi lain, Singapura pada Jumat menyatakan akan mengeluarkan surat peringatan kepada tujuh perusahaan di Indonesia yang diidentifikasi bertanggung jawab atas kebakaran tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari respons negara tetangga terhadap persoalan kabut asap yang berdampak lintas batas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Filipina untuk urusan ASEAN, Dominic Xavier Imperial, mengatakan persoalan kabut asap akan dibahas dalam sejumlah pertemuan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada November di Manila. Pembahasan tersebut menjadi salah satu upaya untuk membawa persoalan polusi lintas batas ke tingkat regional.
Status siaga Level 3 yang diaktifkan ASMC menandakan meningkatnya risiko kabut asap lintas batas di kawasan ASEAN bagian selatan. Sementara penanganan karhutla terus menjadi tantangan, masyarakat di sejumlah negara harus menghadapi dampaknya terhadap kesehatan, pendidikan, transportasi, dan penghasilan sehari-hari.