Millwall vs West Ham, Rivalitas Panas Sepak Bola yang Menyangkut Strata Kelas Warga London
JAKARTA, GENVOICE.ID - Rivalitas Millwall dan West Ham United kembali menjadi sorotan setelah kedua klub bertemu untuk pertama kalinya dalam 14 tahun. Pertandingan di The Den pada Sabtu ini bukan sekadar pertemuan dua klub asal London, tetapi juga mempertemukan dua kelompok suporter dengan sejarah rivalitas panjang.
Kedua klub telah bertemu sebanyak 100 kali dalam pertandingan kompetitif jika turnamen minor yang sudah dihentikan ikut diperhitungkan. Meski berasal dari kawasan London yang berdekatan, persaingan Millwall dan West Ham memiliki latar belakang yang lebih kompleks daripada sekadar persaingan di lapangan.
Akar rivalitas tersebut dapat ditelusuri hingga awal berdirinya kedua klub. Millwall dan West Ham memiliki hubungan dengan industri galangan kapal di kawasan Isle of Dogs, London timur, dan sejak dahulu terdapat persaingan di antara kelompok pekerja dari perusahaan yang berbeda.
Seiring berjalannya waktu, rivalitas tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas masing-masing kelompok suporter. Perbedaan lingkungan dan latar sosial ikut membentuk persepsi terhadap kedua klub, meski persaingan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh faktor kelas sosial.
Pertemuan kedua tim juga tidak berlangsung secara rutin. Sejak Perang Dunia II, keduanya hanya 18 kali bertemu di kompetisi liga. Millwall dan West Ham bahkan hanya pernah berada di kasta teratas Inggris secara bersamaan pada musim 1988-89.
Situasi tersebut membuat setiap pertemuan terasa semakin penting bagi para pendukung. West Ham lebih sering bermain di level tertinggi, sementara Millwall lebih banyak menghabiskan waktunya di divisi bawah. Ketika West Ham terdegradasi pada 2003, kedua klub kembali bertemu beberapa kali.
Millwall mampu mencatat dua kemenangan dan dua hasil imbang dalam empat pertandingan melawan West Ham sebelum The Hammers kembali ke Premier League pada 2005.
Namun, sejarah rivalitas ini juga memiliki sisi kelam. Perseteruan di antara kelompok suporter kedua klub beberapa kali berujung kerusuhan serius, terutama pada era ketika hooliganisme menjadi persoalan besar dalam sepak bola Inggris.
Salah satu insiden paling buruk terjadi pada Agustus 2009 ketika Millwall bertandang ke Upton Park dalam putaran kedua League Cup. Kerusuhan terjadi di dalam dan luar stadion setelah pertandingan tersebut.
Seorang pria berusia 44 tahun mengalami luka tusuk di dada ketika kekacauan berlangsung di luar stadion. Di dalam stadion, polisi antihuru-hara kesulitan mengendalikan situasi dan pertandingan sempat dihentikan setelah sejumlah suporter West Ham masuk ke lapangan.
Kericuhan juga pernah terjadi ketika West Ham menghadapi Millwall di The Den pada Maret 2004. West Ham kalah 1-4 dalam pertandingan tersebut, sementara kerusuhan membuat polisi berkuda harus masuk ke lapangan. Kursi stadion juga dirusak oleh sejumlah suporter.
Jauh sebelumnya, bentrokan antarsuporter kedua klub bahkan pernah menyebabkan korban jiwa. Pada 1976, suporter Millwall bernama Ian Pratt meninggal setelah terlibat bentrokan dengan pendukung West Ham di Stasiun New Cross.
Sejarah tersebut membuat pertemuan Millwall dan West Ham selalu mendapatkan perhatian khusus dari pihak keamanan. Pertandingan kali ini pun tidak terkecuali setelah kedua klub kembali bertemu setelah 14 tahun.
West Ham hanya mendapatkan 1.774 tiket untuk laga di The Den. Kepolisian Metropolitan juga menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga agar kelompok suporter kedua tim tetap terpisah.
Salah satu fasilitas yang digunakan adalah jalur khusus yang menghubungkan Stasiun South Bermondsey dengan area tribun suporter tim tamu. Jalur tersebut diharapkan membantu mengatur pergerakan pendukung West Ham sekaligus mengurangi potensi pertemuan dengan suporter tuan rumah.
Bagi West Ham, pertandingan melawan Millwall juga memiliki karakter yang berbeda dibandingkan derby London lainnya. Rivalitas dengan Chelsea dan Tottenham memang lebih sering menjadi perhatian utama sebagian pendukung West Ham. Namun, perjalanan singkat menuju kawasan selatan Sungai Thames untuk menghadapi Millwall memiliki reputasi tersendiri.
Sementara itu, Millwall kerap menempatkan diri sebagai pihak yang lebih kecil dalam rivalitas ini. Identitas sebagai klub yang berada di luar sorotan utama sepak bola Inggris turut membentuk karakter pendukungnya.
Setelah 14 tahun tanpa pertemuan kompetitif, Millwall dan West Ham akhirnya kembali bertemu. Rivalitas lama, sejarah kawasan London, perbedaan latar sosial, serta catatan panjang bentrokan suporter membuat Derby Dockers kali ini menjadi salah satu pertandingan yang mendapat perhatian besar di luar persoalan hasil di lapangan.