Demo BEM UI Ricuh, Polisi Tangkap 21 Orang dan Periksa 2 Petugas Ambulans
JAKARTA, GENVOICE.ID - Aksi demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di Jakarta pada Selasa, 18 Agustus 2026, berujung kericuhan. Polda Metro Jaya mengamankan 21 orang yang diduga menyusup ke tengah aksi serta dua petugas ambulans untuk menjalani pemeriksaan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, total 23 orang tersebut dibawa ke Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi juga menyita sejumlah benda yang dinilai berbahaya dari mereka.
Dari 21 orang yang diduga bukan bagian dari kelompok mahasiswa, polisi menemukan petasan, flare, serta enam botol yang diduga akan digunakan untuk membuat bom molotov. Sementara dari dua petugas ambulans, polisi menyita satu pisau dan satu golok.
Budi mengatakan, proses pemeriksaan masih berlangsung untuk mengetahui tujuan dan keterlibatan masing-masing orang yang diamankan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan yang dilakukan kepolisian selama berlangsungnya aksi demonstrasi.
"Terkait golok ditemukan pada saat ada ambulans melintas. Dicurigai, digeledah, ternyata ada ambulans di sebelah kursi dari pengemudi ambulans," kata Budi kepada awak media, Selasa (18/8).
Ia mempertanyakan alasan membawa senjata tajam menggunakan kendaraan ambulans. Polisi masih mendalami tujuan keberadaan golok tersebut di dalam ambulans.
Aksi BEM UI sebelumnya berlangsung di kawasan Jakarta dan sempat memanas ketika polisi menahan laju massa mahasiswa yang hendak bergerak menuju Bundaran HI. Petugas kemudian melokalisasi massa di sekitar kawasan Dukuh Atas.
Keputusan tersebut mendapat penolakan dari mahasiswa. Adu mulut hingga aksi saling dorong sempat terjadi antara massa dan aparat kepolisian. Situasi kembali memanas ketika polisi berupaya membubarkan demonstrasi karena waktu penyampaian aspirasi telah mendekati batas yang ditetapkan, yakni pukul 18.00 WIB.
Dalam aksi tersebut, BEM UI membawa sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, pemerintahan, hingga penanganan bencana. Mahasiswa antara lain mendesak pemerintah menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme serta mendorong pelaksanaan reforma agraria.
Mereka juga menuntut penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), evaluasi menyeluruh terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN), serta penghentian program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
Selain itu, BEM UI menyoroti kebijakan pemusatan kekuasaan, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), dan meminta agar otonomi daerah dikembalikan. Mahasiswa juga mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra dan Flores serta mempercepat proses pemulihan daerah yang terdampak bencana.
Tuntutan lainnya berkaitan dengan ruang sipil. BEM UI meminta pemerintah menghentikan tindakan represif dan intervensi TNI serta Polri dalam ruang sipil, sekaligus membubarkan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan.
Sementara itu, polisi masih melakukan pendalaman terhadap 23 orang yang diamankan dalam aksi tersebut, termasuk menelusuri tujuan membawa sejumlah benda yang ditemukan selama pemeriksaan.