Alpine Bisa Jadi ‘Tim Terburuk Terbaik’ Sepanjang Sejarah F1

Genvoice.id | 19 Aug 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Biasanya, posisi juru kunci di klasemen konstruktor Formula 1 adalah aib besar bagi sebuah tim. Minim hadiah uang, reputasi menurun, hingga motivasi yang anjlok. Namun Alpine justru membuat status tim paling buncit musim 2025 terasa berbeda. Mereka bisa jadi tim paling "berkelas" yang pernah menutup musim di dasar klasemen.

Hingga 14 balapan musim ini, tim asal Enstone itu sudah mengoleksi 20 poin-jumlah yang tak pernah dicapai tim lain yang finish terakhir dalam sejarah F1. Jika dibandingkan, poin Alpine saat ini setara dengan delapan poin yang dikumpulkan Toro Rosso di 2009, hanya saja ketika itu sistem poin berbeda dan musim hanya terdiri dari 17 seri. Dengan aturan modern, perolehan Toro Rosso akan setara 29 poin, meski harus diingat banyak balapan era itu lebih mudah memberi celah tim lemah mencuri poin.

Dalam performa kualifikasi, Alpine juga menunjukkan statistik cukup solid. Dari total 34 sesi kualifikasi (termasuk sprint), mereka lolos dari Q1 sebanyak 18 kali. Angka ini bahkan lebih baik dibanding catatan Toro Rosso 2009. Namun masalah besar Alpine ada di mobil kedua. Jack Doohan dan Franco Colapinto belum sekalipun menembus posisi 12 besar pada balapan Minggu. Praktis semua 20 poin Alpine lahir dari Pierre Gasly, dengan hasil terbaiknya finis keenam di Silverstone.

Situasi ini membuat Alpine masih sulit meninggalkan posisi buncit. Haas, pesaing terdekat mereka, unggul 15 poin. Padahal Haas sendiri dikenal sebagai tim yang pernah menjalani "musim terbaik untuk tim terburuk" dengan 12 poin di 2023, sebagian besar disumbang Nico Hülkenberg. Bahkan kala itu mereka sempat mencatat sensasi lewat start kedua di Kanada.

Jika mundur lebih jauh, ada pula Minardi yang dianggap kandidat kuat "tim terburuk terbaik". Pada 2005, Minardi sukses meraih tujuh poin-lebih banyak dari akumulasi satu dekade sebelumnya-meski sebagian besar datang dari balapan kontroversial GP Amerika yang hanya diikuti enam mobil. Di luar itu, mereka tetap terpuruk dengan posisi start dan finis yang jarang meninggalkan papan bawah.

Secara keseluruhan, tercatat 13 kali dalam sejarah ada tim paling buncit yang tetap berhasil mengoleksi poin. Dari Arrows di 2002, Minardi di 2004 dan 2005, Spyker di 2007, hingga Williams dan Sauber dalam beberapa musim terakhir. Kini Alpine berpotensi menulis bab baru: menjadi tim yang paling kompetitif, meski ironisnya tetap finis di posisi paling akhir.