Duka Syukuran Putra Dedi Mulyadi, Bocah 8 Tahun Tewas Terhimpit Antrean Makan Gratis

Genvoice.id | 19 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Acara syukuran putra Dedi Mulyadi di Pendopo Garut berujung duka, bocah 8 tahun tewas terhimpit saat antre makan gratis bersama warga.

Tragedi antrean makan gratis di Pendopo Garut bikin duka mendalam. Salah satu korban adalah Vania Aprilia (8), putri kedua Mela Puri (31).

Mela sama sekali tidak menyangka anaknya ikut berdesak-desakan di acara syukuran pernikahan Maula Akbar, putra pasangan pejabat daerah yang sedang menggelar buka-bukaan konsumsi untuk warga, Jumat siang (18/7/2025).

Awalnya Mela mengira Vania cuma main seperti biasa di sekitar area alun-alun bareng teman-temannya.

"Saya nggak tahu anak saya itu antre, soalnya kan biasanya dia main sama anak-anak yang lain," curhat Mela.

Mela sempat melihat massa menumpuk dan saling dorong di gerbang barat gedung Pendopo. Belum sempat mendekat, masuk telepon memberitahu kalau anaknya sudah dibawa ke ambulans. Ia langsung lari ke lokasi.

Kondisi tangan Vania disebut sudah dingin dan tampak bengkak. Di ruang jenazah barulah keluarga memastikan si kecil telah meninggal. Mela tak kuasa menahan tangis sambil mempertanyakan kenapa tidak ada yang sempat mengevakuasi anaknya saat suasana makin sesak.

Jenazah Vania kemudian dimakamkan sore harinya di Pemakaman Babakan Abid, sekitar pukul 18.00 WIB. Dampak insiden itu, rangkaian Pesta Rakyat yang rencananya berlangsung malam hari di alun-alun langsung dibatalkan.

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyampaikan belasungkawa dan rasa prihatin atas kejadian maut tersebut. Menurut penjelasannya ke awak media, total ada 26 warga pingsan dan tiga orang meninggal dunia, termasuk seorang anggota kepolisian yang sedang bertugas mengamankan keramaian.

Laporan Dinas Kesehatan menyebut banyak warga mengalami kekurangan oksigen akibat desakan massa yang ingin masuk area Pendopo.

"Ini sebenarnya antusiasme masyarakat terkait dengan upacara ini. Mereka ingin bersama-sama bergembira," ujarnya, seraya menambahkan pemerintah daerah dan panitia sepakat menunda atau meniadakan rangkaian lanjutan.

Peristiwa ini kembali mengangkat sorotan soal manajemen kerumunan (crowd control) di event gratis terbuka. Momen bagi-bagi konsumsi sering jadi magnet warga, apalagi ketika digelar figur publik.

Namun tanpa pembatasan arus, jalur keluar-masuk terpisah, serta pembagian waktu antrean, risiko penumpukan cepat meningkat. Keluarga korban berharap ada evaluasi serius agar kejadian serupa tidak terulang.

Sementara warganet di berbagai platform mulai menyerukan standar keamanan lebih tegas untuk acara seremonial yang melibatkan massa besar. Empati publik mengalir untuk Mela yang kehilangan putrinya secara tiba-tiba di situasi yang seharusnya penuh kegembiraan.

Tragedi makan gratis di acara putra Dedi Mulyadi ini menjadi pelajaran penting soal keamanan dan manajemen kerumunan agar tidak memakan korban lagi di masa depan.