Tiga Jurnalis Indonesia Ditahan Israel saat Misi Gaza, Dewan Pers Desak Pemerintah Bergerak
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dewan Pers meminta pemerintah Indonesia segera mengambil langkah diplomatik menyusul penangkapan tiga jurnalis Indonesia oleh Angkatan Laut Israel saat mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, mengecam tindakan Israel yang menghentikan rombongan Global Sumud Flotilla 2.0 di perairan internasional. Menurut Dewan Pers, para jurnalis tengah menjalankan tugas peliputan dalam misi pengiriman bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza.
Tiga jurnalis Indonesia yang berada dalam rombongan tersebut adalah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan Billah dari Republika, serta Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo TV.
Ketiganya tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia bersama enam WNI lain yang ikut dalam armada Global Sumud Flotilla 2.0. Rombongan diketahui berangkat dari Kota Marmaris, Turki, pada 14 Mei 2026 dengan membawa bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obatan untuk warga Palestina.
Berdasarkan keterangan Dewan Pers, armada tersebut terdiri dari 54 kapal yang diisi relawan dan awak sipil dari sekitar 70 negara. Mereka disebut dicegat saat berada sekitar 310 mil laut dari Gaza di wilayah perairan internasional.
Dewan Pers mengaku telah berkomunikasi langsung dengan pimpinan redaksi Republika dan Tempo TV guna memastikan kondisi para jurnalis Indonesia yang ditahan. Informasi mengenai penangkapan tersebut disebut diterima kedua media pada Senin malam, 18 Mei 2026.
Selain mendesak pembebasan para jurnalis, Dewan Pers juga meminta pemerintah Indonesia membantu proses pemulangan seluruh warga negara Indonesia yang ikut dalam misi tersebut.
Dalam pernyataannya, Dewan Pers menegaskan tindakan terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan perlindungan kebebasan pers dan keselamatan pekerja media di wilayah konflik.
Kasus ini menambah sorotan internasional terhadap pencegatan armada Global Sumud Flotilla 2.0 oleh militer Israel. Misi kemanusiaan tersebut diketahui membawa berbagai kebutuhan pokok bagi warga Gaza yang masih terdampak konflik berkepanjangan.