Sholat Tarawih Sendiri di Rumah Ternyata Sah, Begini Niat dan Tata Caranya: Sering Disalahpahami!

Genvoice.id | 19 Feb 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Bulan Ramadhan selalu identik dengan sholat tarawih berjamaah di masjid. Suasananya hangat, penuh kebersamaan, dan menghadirkan semangat ibadah yang khas. Namun pada kenyataannya, tidak semua umat muslim memiliki kesempatan untuk hadir langsung. Ada yang terhalang pekerjaan, kesibukan tertentu, kondisi kesehatan, hingga orang tua yang harus menjaga anak di rumah. Kabar baiknya, sholat tarawih tetap bisa dikerjakan secara mandiri (munfarid) di rumah, dengan tata cara yang pada dasarnya sama seperti saat berjamaah.

Secara umum, pelaksanaan tarawih sendiri tidak memiliki perbedaan signifikan. Yang sering menjadi pertanyaan justru soal jumlah rakaat. Dalam praktiknya, jumlah rakaat tarawih bersifat fleksibel. Di kalangan ulama, dikenal beberapa pendapat yang berkembang. Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali membiasakan 20 rakaat tarawih ditambah witir. Sementara sebagian lainnya merujuk pada sejumlah riwayat yang menyebutkan 8 rakaat. Dalam tradisi Madinah yang diikuti mazhab Maliki, bahkan dikenal praktik 36 rakaat tarawih ditambah witir. Artinya, umat muslim dapat menyesuaikan dengan kemampuan dan kenyamanan ibadahnya.

Bagi yang ingin menunaikan tarawih sendiri di rumah, niat menjadi hal pertama yang perlu diperhatikan. Untuk dua rakaat tarawih, niatnya dapat dibaca dalam hati:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

Usholli sunnatattarowihi rok'ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta'ala

Artinya: "Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta'ala."

Setelah niat, rangkaian gerakan dan bacaan mengikuti pola sholat sunnah pada umumnya. Diawali takbiratul ihram, dilanjutkan doa iftitah, membaca surah Al-Fatihah, lalu surah pendek Al-Qur'an. Sebagian ulama menganjurkan membaca surah tertentu secara berurutan, misalnya At-Takasur pada rakaat awal, kemudian melanjutkan hingga surah-surah pendek lainnya. Setelah itu rukuk dengan tuma'ninah, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, lalu sujud kembali. Rakaat kedua dikerjakan dengan susunan serupa, menggunakan surah yang berbeda. Sholat ditutup dengan tahiyat akhir dan salam. Rangkaian ini diulang hingga mencapai jumlah rakaat yang diinginkan, baik 8, 20, atau sesuai kemampuan.

Tarawih lazimnya ditutup dengan sholat witir sebagai penyempurna ibadah malam. Witir dilaksanakan dalam jumlah rakaat ganjil, bisa satu rakaat, tiga rakaat, atau dua rakaat ditambah satu rakaat. Untuk witir satu rakaat, niatnya:

أصلى سنة من الوتر ركعة لله تعالى

Ushallii sunnatam minal witri rak'atal lillaahi ta'aalaa

Artinya: "Aku niat sholat sunnah witir satu rakaat karena Allah Ta'ala."

Untuk dua rakaat witir:

أصلى سنة من الوتر ركعتين لله تعالى

Ushallii sunnatan minal witri rak'ataini lillaahi ta'aalaa

Artinya: "Aku niat sholat sunnah witir dua rakaat karena Allah Ta'ala."

Sedangkan tiga rakaat witir:

اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal witri tsalatsa raka'atin mustaqbilal qiblati adaan lillahi ta'ala

Artinya: "Aku niat sholat sunnah witir tiga rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta'ala."

Salah satu cara yang paling sering dilakukan adalah witir dua rakaat salam, lalu ditutup satu rakaat. Pelaksanaannya dimulai dengan niat witir dua rakaat, takbiratul ihram, doa iftitah, membaca Al-Fatihah dan surah pendek. Banyak yang memilih membaca Al-A'la pada rakaat pertama dan Al-Kafirun pada rakaat kedua. Setelah menyempurnakan gerakan sholat hingga tahiyat akhir dan salam, jamaah berdiri kembali untuk satu rakaat terakhir dengan niat witir satu rakaat. Pada rakaat penutup, dianjurkan membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum ditutup salam.

Sholat tarawih sendiri di rumah bukanlah pilihan yang lebih rendah nilainya. Ia tetap sah dan bernilai ibadah selama dikerjakan dengan niat yang benar dan tata cara yang sesuai. Pada akhirnya, yang terpenting bukan soal di mana tarawih dilaksanakan, melainkan konsistensi dan kekhusyukan dalam menjalankannya sepanjang Ramadhan.