Real Madrid Dibantai Barcelona, Toni Kroos Ungkap Alasan Taktik Xabi Alonso Gagal Total Di Piala Super Spanyol!

Genvoice.id | 19 Jan 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kondisi raksasa Spanyol, Real Madrid, bener-bener lagi ada di titik nadir setelah rentetan hasil buruk yang menimpa mereka belakangan ini, Gen. Puncaknya adalah kekalahan memalukan dari rival abadi mereka, Barcelona, di partai final Piala Super Spanyol 2026. Krisis ini makin parah karena nggak cuma kehilangan trofi, kekalahan tersebut juga jadi pemicu utama dipecatnya Xabi Alonso dari kursi pelatih, yang disusul dengan tersingkirnya mereka dari ajang Copa del Rey cuma dalam hitungan hari.

Publik pun bertanya-tanya, apa sih yang sebenernya salah sama skuad bertabur bintang ini sampai performanya bisa anjlok drastis di momen krusial? Legenda hidup Madrid, Toni Kroos, akhirnya nggak tahan buat nggak angkat bicara dan membedah secara tajam apa yang terjadi di lapangan lewat podcast pribadinya, Einfach mal luppen. Menurut Kroos, ada sesuatu yang hilang dari identitas asli El Real yang biasanya bikin lawan gemetar. Analisis dari mantan gelandang elegan ini bener-bener gamblang dan nunjukin kalau masalah Madrid saat ini jauh lebih dalem daripada sekadar urusan skor di papan pengumuman, Gen.

Toni Kroos secara terbuka bilang kalau Real Madrid yang sekarang terlalu kaku dan kehilangan unsur kejutan yang biasanya jadi senjata mematikan mereka. Kroos ngerasa kalau Madrid justru butuh situasi yang nggak teratur buat bisa menangin laga besar.

"Saya punya perasaan bahwa mereka membutuhkan semacam kekacauan di lapangan untuk memenangkan pertandingan seperti ini. Bukan sesuatu yang direncanakan, terkontrol, atau rumit, tetapi permainan bolak-balik. Biarkan hal-hal gila terjadi. Di situlah kualitas mereka bisa keluar," ujar Kroos.

Kroos juga nyoroti gol pertama Barcelona yang menurut dia bener-bener nggak masuk akal buat terjadi di tim sekelas Madrid. Padahal, selama 30 menit awal, pertahanan mereka sebenernya cukup stabil. Dia ngerasa Xabi Alonso sebenernya sudah ngerasa punya kendali penuh atas jalannya laga, meskipun tanpa penguasaan bola. Tapi, satu kesalahan konyol dalam membaca momentum langsung ngerusak semuanya. Menurut Kroos, tim besar nggak boleh kasih ruang atau kehilangan bola secara ceroboh hanya dalam hitungan detik setelah mereka dapet tekanan.

Pemain depan pun nggak luput dari kritikan Kroos. Dia ngerasa para penyerang Madrid gagal nahan bola di saat tim lagi butuh napas, yang akhirnya bikin lawan dapet momentum buat nyerang balik terus-terusan. Soal taktik Xabi Alonso yang main lebih bertahan, Kroos sebenernya paham kenapa Xabi pilih jalan itu karena nggak mau ambil risiko main terbuka lawan Barca. Tapi, strategi itu ternyata malah jadi bumerang.

"Anda selalu bisa menang dengan cara ini, tetapi Anda akan kalah di sebagian besar pertandingan. Anda bisa menang karena ada kualitas individu di dalam skuad. Itu terlihat pada gol Vini, tetapi saya merindukan permainan yang terstruktur," tutup Kroos.

Sekarang, setelah Xabi Alonso resmi pergi, Madrid bener-bener harus muter otak buat nyari solusi jangka panjang. Tanpa permainan yang terstruktur dan kehilangan DNA "chaos" mereka, perjalanan sisa musim 2025/2026 bakal makin berat buat Madrid, Gen.


Menurut Gen, apakah Real Madrid emang lebih cocok dilatih sama pelatih yang kasih kebebasan buat bikin "kekacauan" daripada pelatih yang terlalu kaku sama taktik?