Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, BMKG Catat 478 Titik Panas di Indonesia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta dan sekitarnya, mulai bergerak menjauh sejak Sabtu, 17 Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan asap yang terdeteksi melalui citra satelit tersebut tidak berlangsung lama dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan.
Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit pada Jumat (16/10), asap karhutla sempat memasuki wilayah Jabodetabek secara sesaat. Namun, pemantauan pada Sabtu (17/10) pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB menunjukkan sebaran asap mulai bergerak menjauh secara bertahap.
Perubahan Angin Bikin Asap Menjauh dari Jabodetabek
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan perubahan arah dan melemahnya pergerakan angin pada ketinggian tertentu memengaruhi pergeseran asap dari wilayah Jawa bagian barat. Ia mengingatkan bahwa keberadaan asap yang terdeteksi satelit tidak selalu menandakan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan sehingga masyarakat tidak perlu panik.
"Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing. BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi terkini sebagai dasar bagi masyarakat untuk mengambil langkah antisipatif," kata Guswanto, Sabtu (17/10).
Meski asap mulai menjauh dari Jabodetabek, sebaran asap karhutla masih terpantau di berbagai wilayah Indonesia. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyebut asap masih terdeteksi di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua.
Menurut Andri, asap di sejumlah wilayah tersebut terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan masih ditemukannya titik panas atau hotspot di beberapa daerah.
BMKG Catat 478 Titik Panas, Sumatera Selatan Terbanyak
Berdasarkan pemantauan pada 16 Oktober 2026 pukul 00.00-23.59 WIB, BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 189 titik, disusul Jawa Timur sebanyak 89 titik dan Papua Selatan sebanyak 63 titik.
Sementara itu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing mencatat 26 titik panas. Jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah mengalami penurunan signifikan dibandingkan pemantauan pada 15 Oktober 2026, ketika wilayah tersebut masih mencatat 485 titik.
"Perkembangan ini menunjukkan penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut, meskipun potensi karhutla tetap perlu diwaspadai," ujar Andri.
Sebaran Asap Masih Meluas hingga Papua
Berdasarkan citra sebaran asap BMKG pada Minggu (18/10/2026) pukul 10.00 WIB, asap masih terdeteksi di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Wilayah yang terdampak meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
BMKG juga mendeteksi pergerakan asap lintas negara atau transboundary haze. Sebaran asap terpantau bergerak dari Sumatra menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura, dari Kalimantan menuju Semenanjung Malaysia, Sarawak, dan Singapura, serta dari Papua Nugini menuju Papua Selatan dan Papua Pegunungan.
Masyarakat diimbau tetap memantau informasi kualitas udara dan perkembangan cuaca dari sumber resmi. Meski sebaran asap mulai menjauh dari Jabodetabek, kondisi tersebut tidak berarti ancaman karhutla di wilayah lain telah berakhir, terutama selama titik panas masih terdeteksi.