Kenapa Kita Suka Mengoleksi Barang yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pernah membeli sesuatu hanya karena bentuknya lucu, warnanya menarik, edisinya terbatas, atau sekadar ingin melengkapi koleksi? Setelah beberapa waktu, barang tersebut mungkin hanya tersimpan di rak tanpa pernah benar-benar digunakan.
Kebiasaan mengoleksi barang sebenarnya cukup umum. Mulai dari action figure, sneakers, buku, kartu, parfum, tumbler, hingga benda kecil seperti gantungan kunci. Menariknya, manusia bisa merasa puas hanya dengan memiliki dan menambah koleksi, meskipun barang tersebut tidak memiliki fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari.
Mengoleksi Memberikan Rasa Pencapaian
Salah satu alasan orang suka mengoleksi adalah munculnya rasa puas ketika berhasil mendapatkan sesuatu.
Misalnya, seseorang sedang mengumpulkan satu seri buku. Ketika mendapatkan buku yang sudah lama dicari, ada rasa pencapaian tersendiri.
Hal tersebut membuat aktivitas mencari dan mendapatkan barang menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan sekadar transaksi.
Barang Langka Terasa Lebih Berharga
Kelangkaan juga dapat membuat seseorang semakin tertarik terhadap sebuah barang.
Produk yang hanya tersedia dalam jumlah terbatas atau sudah tidak diproduksi lagi sering dianggap lebih menarik dibandingkan barang yang mudah ditemukan.
Konsep ini dikenal sebagai scarcity, yaitu kecenderungan memberikan nilai lebih tinggi pada sesuatu yang dianggap sulit didapatkan.
Itulah mengapa tulisan seperti "limited edition", "rilis terbatas", atau "tersisa beberapa" sering digunakan dalam pemasaran.
Ada Kepuasan Saat Koleksi Semakin Lengkap
Mengoleksi juga memiliki unsur permainan.
Ketika seseorang sudah memiliki beberapa item dari sebuah seri, muncul dorongan untuk melengkapinya.
Misalnya, seseorang memiliki empat dari lima varian sebuah produk. Satu varian yang belum dimiliki justru terasa semakin penting untuk didapatkan.
Koleksi yang hampir lengkap menciptakan rasa penasaran sekaligus tujuan yang ingin dicapai.
Barang Bisa Menjadi Bagian dari Identitas
Koleksi juga dapat menjadi cara seseorang menunjukkan minat dan kepribadiannya.
Seseorang yang memiliki banyak buku mungkin ingin menunjukkan ketertarikannya terhadap membaca. Penggemar sneakers bisa menunjukkan selera fashion atau kecintaannya terhadap budaya sneakers.
Dengan kata lain, barang yang dikoleksi tidak selalu hanya memiliki nilai material.
Koleksi dapat menjadi bagian dari identitas seseorang.
Kenangan Juga Membuat Barang Sulit Dibuang
Tidak semua barang dikoleksi karena harganya mahal atau langka.
Ada benda yang dipertahankan karena memiliki kenangan tertentu.
Tiket konser, foto, kaus lama, hadiah dari teman, atau barang yang dibeli saat bepergian bisa memiliki nilai emosional meskipun secara ekonomi tidak terlalu berharga.
Semakin kuat hubungan antara barang dan sebuah kenangan, semakin sulit seseorang untuk membuangnya.
Koleksi Bisa Menjadi Bentuk Hiburan
Bagi sebagian orang, mengoleksi barang memang sekadar hobi.
Mencari item baru, membandingkan produk, mengikuti komunitas, berburu barang langka, dan berdiskusi dengan kolektor lain dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Bahkan, beberapa komunitas kolektor berkembang menjadi lingkungan sosial yang cukup besar.
Jadi, aktivitas mengoleksi tidak hanya berkaitan dengan barang yang dimiliki, tetapi juga pengalaman yang muncul selama menjalani hobi tersebut.
Kenapa Sulit Berhenti Setelah Sudah Mulai?
Semakin lama seseorang mengoleksi, semakin besar kemungkinan ia merasa sudah "terlanjur" berinvestasi dalam koleksi tersebut.
Misalnya, seseorang sudah memiliki delapan dari sepuluh item dalam satu seri. Dua item yang tersisa bisa terasa sangat penting karena dianggap sayang jika koleksinya tidak lengkap.
Dorongan untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai ini dapat membuat seseorang terus mencari item berikutnya.
Tidak Semua Koleksi Harus Berguna
Pada akhirnya, manusia tidak selalu membeli sesuatu hanya berdasarkan fungsi.
Ada barang yang dibeli karena memberikan kesenangan, kenangan, rasa puas, atau menjadi bagian dari identitas pribadi.
Itulah sebabnya seseorang bisa memiliki sepuluh pasang sneakers meskipun hanya memakai dua pasang secara rutin, atau memenuhi rak dengan barang yang jarang disentuh.
Bagi pemiliknya, nilai barang tersebut bukan hanya terletak pada kegunaannya.
Mengoleksi adalah salah satu cara manusia menikmati proses mencari, memiliki, melengkapi, dan memberikan makna pada benda-benda tertentu. Jadi, meskipun sebuah barang terlihat tidak terlalu dibutuhkan dari luar, bisa saja barang tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar bagi orang yang mengoleksinya.