Kenapa Harga Barang Sering Berakhir dengan Angka 9, Ternyata Ada Alasannya!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pernah melihat harga barang ditulis Rp9.999, Rp19.999, atau Rp49.999? Angka tersebut mungkin terlihat seperti perbedaan kecil dibandingkan harga bulat, tetapi penggunaan angka 9 di bagian akhir harga bukanlah kebetulan.
Strategi tersebut sudah lama digunakan dalam dunia perdagangan dan pemasaran. Tujuannya berkaitan dengan cara konsumen membaca dan mempersepsikan sebuah harga.
Otak Cenderung Membaca Angka dari Kiri
Ketika melihat harga Rp99.999, sebagian orang akan langsung menangkap angka depannya sebagai "99 ribuan", bukan "hampir Rp100 ribu".
Prinsip ini dikenal sebagai left-digit effect. Angka paling kiri dapat memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap persepsi seseorang mengenai besarnya harga.
Karena itu, Rp99.999 secara psikologis dapat terasa lebih dekat dengan Rp90 ribuan daripada Rp100 ribu, meskipun selisih sebenarnya hanya Rp1.
Harga Rp9.999 Terlihat Lebih Murah
Bandingkan dua harga berikut:
- Rp10.000
- Rp9.999
Secara matematis, perbedaannya hanya Rp1.
Namun, tampilan Rp9.999 membuat angka pertama yang terlihat adalah 9, bukan 10. Bagi sebagian konsumen, hal tersebut dapat membuat harga terasa sedikit lebih murah.
Strategi ini sering digunakan untuk produk yang ingin diposisikan sebagai pilihan dengan harga terjangkau.
Strategi Ini Disebut Charm Pricing
Penggunaan angka seperti 9, 99, atau 999 di bagian akhir harga sering disebut charm pricing.
Strategi tersebut merupakan salah satu bentuk psychological pricing, yaitu cara menetapkan atau menampilkan harga dengan mempertimbangkan bagaimana konsumen mempersepsikannya.
Selain angka 9, bisnis juga dapat menggunakan angka lain untuk menciptakan kesan tertentu.
Tidak Semua Harga Menggunakan Angka 9
Harga yang berakhir dengan angka 9 biasanya lebih umum ditemukan pada barang yang ingin terlihat murah atau memiliki penawaran tertentu.
Sementara itu, beberapa bisnis justru menggunakan harga bulat seperti Rp100.000 atau Rp500.000.
Harga bulat dapat memberikan kesan yang berbeda, terutama ketika produk ingin terlihat lebih premium atau sederhana.
Misalnya, restoran kelas atas atau merek tertentu mungkin memilih menampilkan harga bulat karena ingin memberikan kesan yang lebih elegan.
Diskon Juga Sering Menggunakan Pola Ini
Strategi angka 9 tidak hanya digunakan pada harga normal.
Kita juga sering melihat promosi seperti:
Rp150.000 → Rp99.000
Harga tersebut terlihat lebih menarik karena angka akhirnya berada di bawah batas psikologis Rp100 ribu.
Padahal, selisih dengan Rp100.000 hanya Rp1. Namun, angka tersebut dapat membantu menciptakan kesan bahwa konsumen mendapatkan harga yang lebih murah.
Harga Bukan Satu-Satunya yang Memengaruhi Keputusan
Meski strategi harga dapat memengaruhi persepsi, konsumen tentu tidak hanya melihat angka terakhir.
Kualitas produk, merek, kebutuhan, ulasan, promosi, dan pengalaman sebelumnya juga dapat memengaruhi keputusan pembelian.
Karena itu, harga Rp99.999 tidak otomatis membuat semua orang merasa produk tersebut murah.
Efeknya dapat berbeda tergantung situasi dan jenis barang yang ditawarkan.
Kenapa Bukan Rp100.000 Saja?
Pada akhirnya, penggunaan angka 9 dalam harga merupakan bagian dari strategi komunikasi kepada konsumen.
Rp99.999 dan Rp100.000 hanya berbeda Rp1, tetapi cara otak melihat kedua angka tersebut bisa berbeda.
Itulah alasan mengapa angka seperti 9.999, 19.999, atau 99.999 masih sering digunakan dalam berbagai toko dan platform belanja.
Jadi, ketika melihat harga Rp49.999, jangan heran jika sebenarnya penjual sengaja membuat harga tersebut terasa sedikit lebih ringan dibandingkan Rp50.000. Perbedaan nominalnya hampir tidak terasa, tetapi cara angka tersebut ditampilkan dapat memberikan efek psikologis pada calon pembeli.