Kisah Tragis Nazwa, Gadis Medan yang Tewas di Kamboja: Berawal dari Mimpi Bekerja di Luar Negeri

Genvoice.id | 18 Aug 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, ada kabar duka yang bikin kita semua merinding. Seorang gadis asal Medan, Nazwa Aliya (19), ditemukan meninggal di Kamboja. Kisahnya jadi pelajaran pahit untuk kita semua, terutama tentang mimpi besar yang berujung tragis di negeri orang.

Mimpi Besar Berujung Duka di Kamboja

Nazwa Aliya, lulusan SMK Telkom 2 Medan, punya impian besar: bekerja di luar negeri, khususnya di Kamboja. Awalnya, niat ini ditentang oleh sang ibu, Lanniari Hasibuan (53). Namun, Nazwa gigih dan minta izin untuk ikut wawancara di sebuah bank. Dengan penuh harap, ibunya mengizinkan tanpa curiga.

Perjalanan Penuh Misteri

Pada tanggal 28 Mei 2025, Nazwa pamit dari rumah dengan alasan wawancara kedua. Tapi ternyata, itu adalah kepergian tanpa sepengetahuan sang ibu. Keesokan harinya, Nazwa memberi kabar mengejutkan melalui pesan, bahwa dia sudah ada di Bangkok, Thailand.

Sejak saat itu, komunikasi mereka jadi terbatas dan aneh. Nazwa sering menolak panggilan telepon dari ibunya dan hanya mau SMS-an. Sang ibu merasa ada yang tidak beres, seolah-olah ada orang lain yang mengawasi anaknya.

Karena khawatir, ia mencoba lapor ke polisi, tapi ditolak karena Nazwa sudah dewasa dan keberadaannya diketahui.

Kabar Duka dan Perjuangan yang Terhalang

Berbulan-bulan kemudian, kabar buruk itu datang dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, Kamboja. Nazwa dikabarkan sakit parah dan dirawat di rumah sakit.

Tapi anehnya, ibunya justru dilarang datang dengan alasan yang tak masuk akal.

"KBRI melarang saya datang ke Kamboja karena katanya anak saya benci melihat saya. Mereka sarankan adik saya atau keluarga lain yang berangkat," ucap Lanniari kecewa.

Akhirnya, sang adik yang berangkat, tapi tanpa didampingi perwakilan KBRI di sana.

Hanya selang beberapa hari, Nazwa dinyatakan meninggal dunia. Tangis Lanniari pecah, meratapi nasib pilu anaknya. Sekarang, jasad Nazwa masih di Kamboja dan belum bisa dipulangkan karena biaya yang sangat besar, mencapai Rp138 juta.

Sang ibu hanya bisa berharap pemerintah bisa membantu. Kisah Nazwa ini jadi pengingat betapa berbahayanya bekerja di luar negeri tanpa bekal dan persiapan yang matang.