Chatbot Meta Disorot! Senat AS Bongkar Dugaan Bahaya AI untuk Anak!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, dunia teknologi lagi diguncang isu panas. Meta, perusahaan raksasa di balik Facebook dan Instagram, kini jadi sorotan besar setelah muncul bocoran mengejutkan soal chatbot AI mereka yang disebut-sebut bisa bikin percakapan berbahaya dengan anak di bawah umur.
Semua ini bermula dari dokumen internal Meta yang bocor ke publik. Dalam laporan itu disebutkan kalau chatbot AI Meta ternyata sempat diizinkan melakukan obrolan dengan nada romantis bahkan sensual dengan anak berusia delapan tahun. Salah satu contoh kalimat yang muncul bikin heboh: "Setiap inci dari dirimu adalah mahakarya, harta yang sangat aku hargai."
Temuan ini bikin Senator Josh Hawley, Ketua Subkomite Kejahatan dan Kontraterorisme Senat AS, langsung turun tangan. Ia mengumumkan penyelidikan resmi terhadap Meta untuk memastikan apakah produk AI generatif mereka berpotensi mengeksploitasi, menipu, atau bahkan membahayakan anak-anak.
"Kami bermaksud mengetahui siapa yang menyetujui kebijakan ini, berapa lama kebijakan tersebut berlaku, dan apa langkah yang dilakukan Meta untuk mencegah hal serupa terjadi," tegas Hawley dalam suratnya kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg.
Meta sendiri buru-buru memberikan klarifikasi. Juru bicara perusahaan bilang kalau contoh yang beredar itu sebenarnya tidak sesuai dengan kebijakan resmi mereka dan sudah dihapus. Tapi tetap saja, fakta kalau aturan itu pernah ada dianggap tidak bisa ditoleransi.
Masalah ini makin serius karena Hawley juga meminta Meta menyerahkan dokumen lengkap terkait kebijakan AI mereka-mulai dari draf awal sampai versi final, daftar produk yang memakai standar itu, hingga laporan insiden keselamatan. Meta diberi tenggat waktu sampai 19 September 2025 untuk menjawab permintaan tersebut.
Kasus ini ternyata juga dapat dukungan dari Senator Marsha Blackburn. Ia menilai Meta gagal total dalam melindungi anak-anak di dunia digital. "Dalam melindungi anak-anak di ruang digital, Meta gagal total dalam segala hal. Lebih buruk lagi, perusahaan menutup mata terhadap konsekuensi fatal dari desain platformnya," kata Marsha.
Buat Gen, kasus ini jadi pengingat kalau teknologi secanggih apa pun tetap bisa punya sisi gelap kalau nggak diawasi. Apalagi kalau menyangkut keselamatan anak-anak, jelas taruhannya nggak main-main.