Israel vs Suriah: Rudal Hantam Damaskus, Gencatan Senjata di Ujung Tanduk!

Genvoice.id | 18 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Israel melancarkan serangan rudal ke Damaskus dengan alasan melindungi komunitas Druze, sementara gencatan senjata di Sweida terancam gagal.

Situasi di Suriah kembali jadi sorotan global setelah Israel melancarkan serangan militer ke Ibu Kota Damaskus dan wilayah lain, dengan dalih melindungi komunitas Druze yang terlibat bentrokan dengan kelompok Badui (Bedouin) di provinsi Sweida.

Ketegangan ini pecah setelah pemerintah Suriah mengerahkan pasukan militernya ke Sweida untuk memulihkan keamanan, tapi Israel menilai langkah itu mengancam kelompok Druze dan merespons dengan serangan udara yang kemudian meluas ke Damaskus.

Siapa Druze dan Kenapa Dipersoalkan?

Druze adalah kelompok minoritas religius yang berakar dari cabang Syiah pada abad ke?10.

Dari sekitar 1 juta penganut di dunia, separuhnya tinggal di Suriah; komunitas lainnya tersebar di Lebanon, Israel, dan Dataran Tinggi Golan, wilayah yang direbut Israel dari Suriah pada 1967 dan dianeksasi pada 1981.

Karena kedekatan geografis dan demografis inilah isu perlindungan Druze sering jadi alasan sensitif dalam politik regional.

Serangan Israel: Target Strategis di Damaskus

Serangan yang meluas pada Rabu (16/7) dilaporkan menghantam:

  • Kompleks Kementerian Pertahanan Suriah dekat Istana Kepresidenan.
  • Pintu masuk markas militer pusat di Damaskus.
  • Pangkalan Militer Mazzeh dan area depot amunisi.

Israel lebih dulu memberikan peringatan agar pemerintah Suriah "tidak mengganggu warga Druze." Setelah bentrokan di Sweida meningkat, rudal pun meluncur. Laporan saksi yang dikutip Al?Jazeera menyebut kerusakan parah pada gedung Kemhan.

Sumber militer ke Reuters dan AFP mengonfirmasi serangkaian hantaman ke sasaran militer sekitar Damaskus. Korban dari rangkaian serangan Israel disebut setidaknya 3 tewas dan lebih dari 30 luka (angka awal, bisa berkembang).

Korban Konflik Sweida Tembus Ratusan

Situasi lapangan jauh lebih tragis dari sekadar saling klaim. Lembaga pemantau HAM Suriah (SOHR) mencatat angka korban di Sweida mencapai skala ngeri:

  • Total lebih dari 300 tewas.
  • 69 pejuang Druze.
  • 40 warga sipil (dari total 55 sipil dalam catatan lanjutan).
  • 27 di antaranya disebut tewas lewat "eksekusi singkat" oleh aparat keamanan dalam negeri.
  • 165 tentara pemerintah.
  • 18 pejuang Bedouin.
  • Termasuk 10 tentara pemerintah yang dilaporkan tewas akibat serangan Israel.

Kecaman Internasional Menggulung

Reaksi dari luar negeri berdatangan:

  • Turki menyebut serangan Israel hanya akan menghancurkan upaya perdamaian dan stabilitas Suriah.
  • Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam pelanggaran kedaulatan dan menegaskan solidaritas penuh Lebanon untuk Suriah sebagai "saudara dunia Arab."
  • PBB melalui Sekjen Antonio Guterres (via juru bicara Stephane Dujarric) mengecam peningkatan serangan Israel di Sweida, Daraa, dan pusat Damaskus, serta memantau pergerakan pasukan IDF di Golan.

Upaya De?EskalasI & Gencatan Senjata Sweida

AS, melalui Menlu Marco Rubio, mengklaim ada kesepakatan langkah de?eskalasi yang dicapai Rabu (16/7) setelah komunikasi intens dengan pihak Israel dan Suriah. Rinciannya belum dibuka, tapi disebutkan semua pihak diminta memenuhi komitmen untuk "mengakhiri situasi mengerikan" segera.

Di lapangan, pemerintah Suriah setuju gencatan senjata di Sweida dan akan menghentikan seluruh operasi militer. Sebuah komite gabungan pejabat pemerintah dan pemimpin spiritual Druze dibentuk untuk mengawasi implementasi.

Video televisi pemerintah menampilkan Sheikh Youssef Jarboua membacakan 10 poin perjanjian. Namun pemimpin Druze lain, Sheikh Hikmat al?Hijri, menolak kesepakatan itu, menandakan proses damai belum solid.

Apa Berikutnya?

Serangan Israel, konflik antar komunitas, dan respons regional bikin Suriah kembali ke pusaran krisis. Semua mata kini tertuju pada: apakah gencatan senjata Sweida bertahan, dan apakah Israel menghentikan operasi lebih lanjut? Stay tuned untuk update terbaru!

Situasi Suriah kini berada di titik kritis, dengan serangan Israel yang memicu eskalasi dan gencatan senjata yang rapuh. Dunia berharap dialog damai segera tercapai demi menghentikan konflik berdarah ini.