Evakuasi WNA Swiss di Gunung Rinjani Berjalan Cepat, Kemenpar Soroti Pentingnya Keamanan Wisata
JAKARTA, GENVOICE.ID - Seorang wisatawan asing asal Swiss yang mengalami kecelakaan saat mendaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, berhasil dievakuasi dengan cepat menggunakan helikopter. Mengutip dari ANTARA News, Jumat (18/7), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyatakan proses evakuasi berjalan lancar berkat kondisi cuaca yang mendukung dan lokasi kejadian yang relatif mudah dijangkau.
"Kita patut bersyukur karena cuaca cerah dan lokasi kejadian dekat dengan area terbuka, sehingga helikopter dapat mendarat dan korban segera ditangani," ujar Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hariyanto, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (18/7).
Insiden ini menimpa pendaki asal Swiss berinisial BE, yang dikabarkan terjatuh saat perjalanan turun dari puncak ke Danau Segara Anak, pada Rabu (16/7) dini hari. BE memulai pendakian sehari sebelumnya melalui jalur Sembalun.
Setelah laporan masuk pukul 11.25 WITA, tim gabungan yang terdiri dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Edelweis Medical Help Center (EMHC), Rinjani Squad, BASARNAS, Polisi Kehutanan, dan para relawan langsung dikerahkan. Evakuasi dilakukan berdasarkan permintaan asuransi pribadi korban yang mengajukan penanganan udara.
Koordinasi pun dilakukan dengan Kantor SAR Mataram dan Bali Air, hingga akhirnya pada pukul 16.58 WITA, helikopter berhasil mengangkat korban dan membawanya ke BIMC Hospital Kuta, Bali. Dari hasil pemeriksaan awal, BE mengalami patah tulang di paha dan lengan serta luka di sekitar mata. Kini, ia telah mendapatkan perawatan medis lanjutan.
Hariyanto mengungkapkan rasa prihatin atas insiden tersebut, mengingat ini bukan pertama kalinya kecelakaan pendakian terjadi di Rinjani dalam waktu dekat. Ia juga menegaskan bahwa keselamatan wisatawan harus menjadi fokus utama dalam pengembangan pariwisata.
"Keselamatan bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi mutlak dalam industri pariwisata. Tanpa sistem keamanan yang andal, potensi wisata sebesar apa pun akan sulit berkembang secara berkelanjutan," tegasnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Kemenparekraf tengah menggagas program komprehensif untuk meningkatkan standar keamanan di destinasi wisata, termasuk edukasi kepada pelaku wisata dan penguatan koordinasi lintas sektor dalam penanganan insiden.
Kementerian juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan, dan berharap kejadian ini bisa menjadi pengingat penting bagi pengelola wisata alam di seluruh Indonesia.