Kementerian ESDM Kenalkan BBM E20, Bisa Jadi Pengganti Pertamax?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah mulai menyiapkan langkah lanjutan dalam pengembangan bahan bakar ramah lingkungan melalui rencana penerapan bensin campuran bioetanol 20 persen atau E20. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahkan berencana melakukan uji jalan atau road test untuk memastikan kesiapan kendaraan dan industri otomotif sebelum bahan bakar tersebut digunakan secara luas.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) guna mempercepat pelaksanaan pengujian E20 pada kendaraan.
Menurut Eniya, pengujian tersebut diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kesiapan mesin kendaraan yang beredar di Indonesia dalam menggunakan bensin dengan campuran etanol yang lebih tinggi dibanding saat ini.
Meski E20 menjadi target jangka menengah pemerintah, fokus utama saat ini masih berada pada implementasi bensin campuran etanol 5 persen atau E5. Pemerintah menargetkan mandatori E5 dapat berjalan sebelum akhir 2026 sebagai bagian dari tahapan menuju E10 pada awal 2027.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, implementasi E20 dijadwalkan mulai diterapkan pada 2028.
Eniya menjelaskan bahwa sejumlah regulasi pendukung untuk penerapan E5 sebenarnya sudah hampir rampung. Pemerintah hanya tinggal menunggu keputusan terkait alokasi volume distribusi. Selain itu, aturan pembebasan cukai serta penyederhanaan perizinan usaha pencampuran bahan bakar juga telah disiapkan untuk mendukung program tersebut.
Di sisi lain, pemerintah masih mengawal kesiapan infrastruktur distribusi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kesiapan fasilitas milik PT Pertamina (Persero), termasuk proses penyesuaian dan pembersihan reaktor yang diperlukan dalam produksi bahan bakar campuran etanol.
Sementara itu, Lemigas masih melakukan serangkaian pengujian teknis untuk menentukan formulasi terbaik antara etanol dan berbagai jenis bensin berdasarkan angka oktan yang beredar di Indonesia.
Menurut Eniya, perkembangan teknologi kendaraan saat ini sebenarnya memungkinkan penggunaan campuran etanol yang lebih tinggi. Berdasarkan berbagai kajian dan publikasi ilmiah, banyak kendaraan modern dinilai mampu menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol hingga 30 persen.
Meski demikian, pemerintah memilih menerapkan transisi secara bertahap melalui E5, E10, hingga E20 guna memastikan aspek keamanan, efisiensi, dan kenyamanan pengguna kendaraan tetap terjaga.
Kehadiran E20 juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dalam sektor transportasi.
Namun, apakah E20 akan menggantikan Pertamax sepenuhnya masih belum dapat dipastikan. Saat ini pemerintah masih fokus pada tahap pengujian dan penyusunan regulasi sebelum menentukan skema distribusi serta posisi produk tersebut di pasar BBM nasional.
Jika uji coba berjalan sukses dan seluruh infrastruktur siap, E20 berpotensi menjadi salah satu pilihan bahan bakar baru bagi masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.