Harga Pertamax Bisa Turun? Kementerian ESDM Ungkap Faktor Penentunya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, berpeluang mengalami penurunan apabila harga minyak mentah dunia bergerak turun.
Juru Bicara Menteri ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa mekanisme penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga minyak di pasar internasional. Karena itu, perubahan harga dapat terjadi baik ke arah kenaikan maupun penurunan.
Menurut Anggia, ketika harga minyak dunia mengalami penurunan, maka harga BBM nonsubsidi juga akan disesuaikan. Sebaliknya, jika harga minyak global meningkat, harga BBM nonsubsidi harus mengikuti perhitungan keekonomian yang berlaku.
Ia menuturkan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terjadi belakangan bukan hanya dialami Indonesia. Sejumlah negara lain bahkan telah lebih dulu melakukan penyesuaian harga akibat perubahan kondisi pasar energi global.
Anggia mengatakan para pelaku usaha di sektor energi tidak dapat menghindari dampak fluktuasi harga minyak dunia yang semakin dinamis. Oleh karena itu, penyesuaian harga dinilai menjadi langkah yang diperlukan agar harga jual tetap sesuai dengan kondisi ekonomi dan biaya produksi.
Meski demikian, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan. Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat yang rentan terhadap gejolak ekonomi dan kenaikan biaya hidup.
Menurut Anggia, pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM subsidi meskipun situasi geopolitik internasional berpotensi memengaruhi pasar energi global. Kebijakan itu juga menjadi salah satu langkah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) mengumumkan penyesuaian harga sejumlah BBM nonsubsidi. Harga Pertamax dengan Research Octane Number (RON) 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara itu, Pertamax Green 95 mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan tersebut memicu perhatian publik karena terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk perkembangan geopolitik global dan pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Menurut Simon, perusahaan juga tetap memperhatikan kondisi daya beli masyarakat dalam menetapkan harga BBM nonsubsidi.
Di tengah kenaikan Pertamax dan Pertamax Green, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Harga Pertalite tetap dipatok Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar bersubsidi masih berada di angka Rp6.800 per liter sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, peluang turunnya harga Pertamax pada masa mendatang sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dunia. Jika tren harga minyak global mengalami pelemahan, maka masyarakat berpeluang mendapatkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang lebih rendah.