Gelar Juara Piala Afrika 2025 Jatuh Ke Tangan Maroko, Bayer Leverkusen Beri Ucapan Selamat Spesial Meski Penuh Kontroversi

Genvoice.id | 18 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Drama perebutan takhta tertinggi sepak bola di benua hitam rupanya belum benar-benar berakhir meski laga final sudah lama usai. Jagat media sosial kembali heboh setelah klub raksasa asal Jerman, Bayer Leverkusen, secara mengejutkan memberikan pernyataan resmi terkait status juara Piala Afrika 2025.

Kabar ini menjadi sangat liar karena gelar juara yang awalnya sempat dirayakan oleh tim nasional Senegal, kini secara resmi dialihkan kepada tim nasional Maroko oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika atau CAF. Keputusan ini diambil setelah serangkaian investigasi mendalam terkait insiden yang terjadi di lapangan saat laga puncak berlangsung di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada Januari 2026 lalu.

Pengalihan status juara ini tentu saja memicu perdebatan panas di kalangan pecinta sepak bola dunia, namun bagi kubu Leverkusen, hal yang paling utama adalah memberikan apresiasi kepada salah satu talenta muda mereka yang ikut berjuang membela panji Maroko di turnamen tersebut. Sontak saja, unggahan klub berjuluk Die Werkself ini langsung diserbu komentar netizen yang masih mempertanyakan keabsahan keputusan federasi pusat.

Bayer Leverkusen melalui akun Instagram resminya pada hari Rabu mengumumkan dukungannya atas keputusan CAF yang mendeklarasikan Maroko sebagai pemenang sah AFCON 2025. "Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) telah mendeklarasikan Maroko sebagai pemenang Piala Afrika 2025!," tulis pihak klub dalam unggahan yang langsung viral tersebut.

Status juara ini diberikan kepada Maroko setelah Senegal dinyatakan melakukan pelanggaran regulasi yang sangat serius di tengah pertandingan final. Saat itu, para pemain Senegal memilih melakukan aksi walk-off atau meninggalkan arena pertandingan sebagai bentuk protes keras.

Berdasarkan aturan baku FIFA dan CAF, aksi mogok main tersebut membuat Senegal dinyatakan kalah diskualifikasi, dan kemenangan pun otomatis dihitung 3-0 untuk keunggulan Maroko. Padahal, jika melihat skor di papan manual saat itu, Senegal sebenarnya sempat unggul tipis 1-0 sebelum drama walk-off terjadi.

Bagi manajemen Bayer Leverkusen, ucapan selamat ini ditujukan secara khusus untuk pemain andalan mereka, Elisse Ben Seghir. Gelandang muda berbakat itu memang menjadi bagian dari skuad Maroko yang berlaga di turnamen tersebut. Leverkusen menegaskan bahwa mereka tidak mau terjebak dalam urusan politik atau teknis federasi, melainkan hanya ingin merayakan pencapaian besar sang pemain yang sukses meraih trofi internasional pertamanya.

"Kami tidak 100% yakin bagaimana ini terjadi atau apakah itu benar atau salah. Tapi bagi Eli, ini adalah gelar yang besar dan penting dan itulah yang paling penting bagi kami," tulis pernyataan resmi Bayer Leverkusen di media sosial mereka.

CAF sendiri memastikan bahwa keputusan membatalkan kemenangan awal Senegal adalah langkah final setelah mereka menerima banding dari Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko. Komite Disiplin CAF menilai perilaku tim nasional Senegal selama laga tersebut telah melanggar integritas turnamen dan regulasi resmi yang sudah disepakati bersama.

Meskipun banyak pihak yang merasa keputusan ini aneh karena membatalkan hasil murni di lapangan, Maroko tetap secara hukum menyandang status sebagai raja baru Afrika tahun ini. Elisse Ben Seghir kini pun pulang ke Jerman dengan membawa medali emas yang sangat berharga bagi perkembangan kariernya di masa depan.