Bukan Masalah Pribadi! Psikolog Syok Klien Datang Menangis karena Negara, Putus Asa Jadi WNI!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Media sosial tengah dihebohkan curhatan seorang psikolog klinis yang mengungkap fenomena tak biasa dalam praktik profesionalnya. Lya Fahmi, seorang psikolog dengan pengalaman lebih dari tujuh tahun, mengaku terkejut sekaligus terguncang setelah menerima dua klien berturut-turut yang datang ke ruang konseling bukan karena masalah pribadi, melainkan tekanan mental akibat kondisi negara.
Melalui unggahan di akun media sosial, Lya menceritakan peristiwa ini merupakan pengalaman pertama sepanjang 7,5 tahun kariernya sebagai psikolog. Ia menekankan kedua klien tersebut secara sadar dan eksplisit menyebut negara sebagai sumber utama distres psikologis yang mereka alami. Unggahannya pun viral dan mendapat respons luar biasa, dengan lebih dari 100 ribu pengguna Instagram ikut berkomentar dan berbagi pengalaman serupa.
Menurut Lya, dalam kajian kesehatan mental, faktor struktural seperti kebijakan publik, ketimpangan sosial, hingga cara negara menangani krisis memang memiliki dampak signifikan terhadap kondisi psikologis individu. Namun, selama ini sebagian besar klien datang dengan keluhan personal tanpa menyadari akar masalahnya berkaitan erat dengan sistem yang lebih besar.
Yang membuat kasus ini berbeda, kata Lya, adalah kesadaran penuh klien terhadap sumber tekanan mereka. Sejak awal sesi konseling, emosi klien sudah memuncak. Salah satu klien bahkan langsung menangis dan mengungkapkan rasa putus asa mendalam sebagai warga negara Indonesia.
Klien tersebut menyampaikan kemarahannya terhadap cara pemerintah menangani korban bencana di Sumatera. Ia merasa rakyat tidak dianggap, tidak didengar, dan seolah-olah tidak memiliki nilai di mata penguasa. Perasaan diabaikan itu berkembang menjadi kelelahan mental yang berat hingga akhirnya mendorongnya mencari bantuan profesional.
Pengakuan tersebut membuat Lya tersentak. Ia menyadari narasi penderitaan sebagai warga negara yang selama ini ramai di media sosial ternyata bukan sekadar keluhan daring, melainkan telah menjalar ke ruang konseling, ruang yang biasanya dipenuhi cerita luka personal, trauma keluarga, atau konflik batin individu.
Momen yang paling membekas bagi Lya justru terjadi setelah sesi konseling berakhir. Klien tersebut memberikan sebatang cokelat kepadanya. Alasannya sederhana namun menyentuh: ia merasa psikolognya ikut terdampak secara emosional setelah mendengar curahan hati tentang kemarahan dan kekecewaan terhadap pemerintah. Gestur kecil itu menjadi simbol empati di tengah kelelahan kolektif.
Curhatan Lya Fahmi langsung menuai respons luas dari warganet. Banyak yang mengaku merasakan hal serupa, marah, lelah, cemas, bahkan putus asa melihat berbagai persoalan bangsa yang tak kunjung usai. Mulai dari penanganan bencana, kebijakan publik yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, hingga perasaan tidak didengar sebagai warga negara.
Fenomena ini, menurut Lya, menjadi pengingat penting kesehatan mental bukanlah persoalan individu semata. Kondisi sosial, politik, rasa keadilan, dan kepercayaan terhadap negara memiliki peran besar dalam membentuk kesehatan psikologis masyarakat. Ketika rasa aman dan harapan terhadap sistem runtuh, dampaknya bisa menjalar menjadi krisis mental kolektif.