Vasektomi yang Dipilih Suami Siti Badriah Bisa Cegah Kehamilan hingga 99 Persen, Ini Faktanya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Vasektomi menjadi salah satu metode kontrasepsi untuk pria yang kembali ramai diperbincangkan setelah aktor Krisjiana Baharudin mengungkap keputusannya menjalani prosedur tersebut. Suami Siti Badriah itu menyebut pilihannya sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus penghargaan terhadap perjuangan sang istri dalam menjalani kehamilan dan mengurus keluarga.
Vasektomi merupakan metode kontrasepsi permanen bagi pria yang dilakukan melalui tindakan medis pada saluran vas deferens. Prosedur ini bertujuan menghalangi sperma keluar dari testis menuju uretra sehingga sperma tidak lagi bercampur dengan air mani saat ejakulasi.
Apa Itu Vasektomi?
Secara sederhana, vasektomi dilakukan dengan memotong, mengikat, atau menutup saluran vas deferens yang menjadi jalur sperma dari testis. Dengan terhambatnya saluran tersebut, sperma tidak dapat mencapai cairan semen yang dikeluarkan ketika pria mengalami ejakulasi.
Metode ini dikenal sebagai salah satu pilihan kontrasepsi dengan efektivitas yang sangat tinggi dan umumnya bersifat permanen. Namun, vasektomi tidak langsung membuat seorang pria steril setelah prosedur karena masih diperlukan waktu hingga sisa sperma dalam saluran reproduksi benar-benar hilang.
Bagaimana Vasektomi Mencegah Kehamilan?
Setelah saluran vas deferens ditutup, sperma yang tetap diproduksi oleh testis tidak dapat melewati saluran tersebut. Sel sperma kemudian diserap kembali oleh tubuh, sementara cairan semen tetap dapat diproduksi oleh kelenjar reproduksi.
Karena itu, vasektomi tidak menghentikan produksi hormon testosteron dan tidak menghilangkan fungsi seksual pria. Prosedur tersebut juga tidak dirancang untuk mengganggu kemampuan mengalami ereksi, orgasme, maupun ejakulasi.
Apakah Vasektomi Mengubah Hubungan Seksual?
Salah satu hal yang kerap menjadi pertanyaan adalah apakah vasektomi akan memengaruhi kehidupan seksual pria. Pada umumnya, pria yang menjalani vasektomi tetap dapat mengalami ereksi, orgasme, dan ejakulasi seperti sebelum menjalani prosedur.
Perubahan utamanya terletak pada kandungan sperma dalam air mani sehingga kehamilan dapat dicegah. Dengan demikian, vasektomi berbeda dari tindakan yang menghilangkan gairah seksual atau kemampuan pria untuk berhubungan intim.
Seberapa Efektif Vasektomi?
Vasektomi termasuk metode kontrasepsi dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi dan dapat mencapai lebih dari 99 persen setelah prosedur dinyatakan berhasil. Meski demikian, pasangan tetap perlu menggunakan metode kontrasepsi lain sampai pemeriksaan medis memastikan tidak terdapat lagi sperma dalam air mani.
Pemeriksaan tersebut penting karena sperma masih dapat berada di saluran reproduksi selama beberapa waktu setelah tindakan. Dokter biasanya akan memberikan arahan mengenai kapan analisis air mani perlu dilakukan untuk memastikan prosedur telah efektif.
Efek Samping yang Perlu Diketahui
Meski tergolong prosedur dengan risiko komplikasi yang relatif rendah, vasektomi tetap merupakan tindakan medis yang memiliki potensi efek samping. Beberapa kondisi yang dapat muncul antara lain infeksi pada luka sayatan, hematoma atau penggumpalan darah pada skrotum, serta rasa penuh atau tidak nyaman pada testis.
Efek lain yang dapat terjadi adalah granuloma sperma akibat kebocoran sperma dan respons peradangan di sekitar jaringan. Dalam kondisi tertentu, pasien juga dapat mengalami hidrokel atau penumpukan cairan di sekitar testis serta spermatokel yang merupakan kista jinak pada epididimis.
Alasan Krisjiana Baharudin Memilih Vasektomi
Keputusan menjalani vasektomi disampaikan Krisjiana Baharudin melalui unggahan video di Instagram. Ia mengatakan pilihan tersebut berkaitan dengan perjuangan istrinya dalam menjalani kehamilan hingga mengurus anak setelah melahirkan.
"Gua memutuskan untuk vasektomi. Kadang para suami itu lupa, di balik hadirnya seorang anak, ada perjuangan seorang istri yang gak sedikit," ujar Krisjiana.
Menurut Krisjiana, kehamilan dan proses setelah persalinan membutuhkan banyak pengorbanan dari seorang ibu. Ia kemudian memilih mengambil bagian dari tanggung jawab tersebut melalui keputusan untuk menjalani vasektomi.
"Gua gak punya hak untuk memaksa istri gua hamil lagi. Gua juga gak punya hak menentukan apa yang harus dia lakuin sama tubuhnya. Karena itu tubuh dia, dan dia berhak memilih, apakah masih ingin hamil lagi atau enggak," kata Krisjiana.
Ia menegaskan bahwa vasektomi yang dipilihnya bukan berkaitan dengan persoalan kejantanan, melainkan cara untuk menghormati keputusan pasangan dan mengambil tanggung jawab dalam keluarga. Menurutnya, keputusan mengenai kontrasepsi perlu dibicarakan bersama pasangan dan tetap dilakukan dengan pertimbangan medis.
"Vasektomi itu bukan tentang siapa yang lebih banyak berkorban. Bukan tentang kehilangan kejantanan juga. Ini tentang tanggung jawab," ujarnya.
Tetap Perlu Konsultasi dengan Dokter
Vasektomi merupakan metode kontrasepsi yang perlu dipertimbangkan secara matang karena umumnya ditujukan sebagai kontrasepsi permanen. Pasangan yang mempertimbangkan prosedur ini perlu mendapatkan informasi mengenai manfaat, risiko, efektivitas, serta kemungkinan pilihan kontrasepsi lainnya dari tenaga medis.
Evaluasi dokter diperlukan sebelum tindakan dilakukan untuk memastikan prosedur sesuai dengan kondisi pasien. Setelah menjalani vasektomi, pasien juga perlu mengikuti instruksi perawatan dan pemeriksaan lanjutan agar efektivitas kontrasepsi dapat dipastikan.