Jeff Bezos Masuk Liverpool, Fans Kritik soal Hubungan Amazon dengan Israel Mengemuka

Genvoice.id | 17 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Keterlibatan Jeff Bezos dalam konsorsium yang membeli saham Liverpool mendapat sorotan dari anggota parlemen Inggris Zarah Sultana. Kritik tersebut berkaitan dengan hubungan bisnis Amazon, perusahaan yang didirikan Bezos, dengan Israel melalui proyek teknologi pemerintah.

Fenway Sports Group (FSG), pemilik mayoritas Liverpool, sebelumnya menyepakati penjualan sekitar 30 persen saham klub kepada konsorsium 1892 Holdings. Kelompok investasi tersebut dipimpin Amit Bhatia dan didukung sejumlah investor, termasuk Bezos melalui K5 Sports serta salah satu pendiri Facebook, Eduardo Saverin.

Kesepakatan itu membuat valuasi Liverpool mencapai lebih dari £5 miliar. Namun, keterlibatan Bezos tidak membuatnya menjadi pemilik utama klub. FSG masih memegang kendali operasional sekaligus mayoritas saham Liverpool. Bezos juga tidak mendapatkan kursi di jajaran direksi klub.

Zarah Sultana Soroti Hubungan Amazon dengan Israel

Masuknya Bezos ke dalam struktur kepemilikan Liverpool kemudian dikritik Zarah Sultana. Melalui akun X miliknya, anggota parlemen Inggris tersebut menyoroti keterlibatan Amazon dalam Project Nimbus.

Project Nimbus merupakan proyek penyediaan layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan untuk pemerintah Israel. Sultana menilai hubungan bisnis tersebut perlu menjadi perhatian suporter Liverpool ketika membicarakan keterlibatan Bezos di klub.

"Saya sangat terpukul" mengetahui konsorsium Bezos membeli sekitar sepertiga saham Liverpool, tulis Sultana.

Ia mengakui kekhawatiran suporter mengenai praktik Amazon terhadap pekerja sebagai persoalan penting. Namun, menurut Sultana, terdapat isu lain yang juga perlu diperhatikan terkait hubungan perusahaan tersebut dengan pemerintah Israel.

"Amazon adalah mitra utama dalam Project Nimbus, menyediakan layanan cloud dan AI kepada negara Israel," tulisnya.

Sultana kemudian mempertanyakan bagaimana keterlibatan kekayaan Bezos dapat dipandang dari sisi nilai yang selama ini melekat pada Liverpool. Menurutnya, klub tersebut memiliki sejarah yang kuat dengan komunitas kelas pekerja serta tradisi solidaritas terhadap kelompok yang mengalami penindasan.

Ia juga mempertanyakan dampak investasi Bezos terhadap identitas Liverpool mengingat hubungan bisnis Amazon dengan pemerintah Israel yang menjadi bagian dari kritiknya.

Pernyataan Sultana tersebut merupakan pandangan politiknya terkait konflik Israel-Palestina serta hubungan bisnis Amazon dengan pemerintah Israel.

Suporter Liverpool Diminta Ikut Bersikap

Sultana juga mengajak suporter Liverpool untuk menggunakan pengaruh mereka dalam menyikapi persoalan kepemilikan klub. Ia mengingatkan bahwa Liverpool selama ini tidak hanya dipandang sebagai sebuah entitas bisnis, tetapi juga sebagai komunitas dengan sejarah sosial yang panjang.

"Liverpool lebih dari sekadar bisnis, klub ini adalah sebuah komunitas," ujar Sultana.

Ia menyinggung sejumlah momen ketika suporter Liverpool pernah menunjukkan sikap bersama dalam berbagai persoalan, termasuk perjuangan keluarga korban tragedi Hillsborough, penolakan terhadap rencana European Super League, hingga protes mengenai kenaikan harga tiket.

Menurut Sultana, keterlibatan Bezos dapat menjadi momentum bagi suporter untuk kembali mempertanyakan nilai, tanggung jawab, serta arah kepemilikan Liverpool di masa mendatang.

Bezos Bukan Pemilik Mayoritas Liverpool

Meski namanya menjadi sorotan, Bezos bukan satu-satunya investor dalam konsorsium 1892 Holdings. Kelompok tersebut dipimpin Amit Bhatia dan melibatkan sejumlah investor lainnya, termasuk Eduardo Saverin.

Keterlibatan Bezos di Liverpool juga dilakukan melalui investasi minoritas dalam konsorsium tersebut. Dengan demikian, masuknya pendiri Amazon itu tidak berarti terjadi pengambilalihan Liverpool secara penuh.

FSG tetap menjadi pemegang saham mayoritas dan mempertahankan kendali operasional klub. Bezos pun tidak memiliki posisi di jajaran direksi Liverpool.