BNN dan Universitas Udayana Bongkar Fakta Ganja! Obat Ampuh atau Bahaya Mengintai?

Genvoice.id | 17 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - BNN dan Universitas Udayana teliti ganja medis untuk ungkap potensi sebagai obat atau risiko penyalahgunaan.

Tanaman ganja yang selama ini sering dianggap sebagai biang masalah, kini justru lagi dilirik buat dijadikan obat! Yup, Badan Narkotika Nasional (BNN) kerja bareng Universitas Udayana, Bali, buat meneliti lebih dalam soal potensi ganja medis.

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan besar: beneran bisa jadi obat atau cuma mitos belaka? Kepala BNN, Komjen Marthinus Hukom, bilang kalau mereka nggak mau asal percaya sama testimoni pribadi soal manfaat ganja.

"Kita juga membuka ruang untuk berdiskusi tentang ganja berdasarkan hasil penelitian. Bukan berdasarkan mitos atau pengakuan pribadi orang-orang yang menggunakan ganja tersebut," katanya, pada Selasa (15/7/2025).

Menurut Marthinus, ganja memang punya dua kandungan utama yang lagi jadi sorotan dunia medis: CBD (cannabidiol) dan THC (delta-9-tetrahidrokanabinol). Tapi, dari dua komponen itu, belum jelas yang mana yang punya khasiat sebagai obat.

"Pertanyaannya, yang mana yang menjadi obat? Apakah cannabinol-nya, atau tetra, apa? Tetra kanabinoid, atau ada yang lain? Jadi kita sedang melakukan penelitian," sebut Marthinus.

Kalau hasil penelitian nanti membuktikan ganja memang bisa jadi tanaman obat, BNN bakal dorong pemerintah buat bikin regulasi ketat. Gak bisa sembarang jual di pasar kayak jual bayam atau kangkung.

"Kalaupun terbukti bahwa ganja bisa mengobati, bukan berarti dilegalkan, tapi diatur penggunaannya dengan resep dokter. Bukan dibebaskan dijual seperti jual kampung di pasar gitu," tegasnya.

Tapi, Marthinus juga memberikan warning. Sampai saat ini, tercatat ada 1,4 juta pengguna ganja di Indonesia. Dan karena tanaman ini gampang tumbuh di tanah Indonesia, dikhawatirkan penyalahgunaannya makin meluas.

"Dampak dari penggunaan ganja, orang hidup dalam ilusi, dalam khayalan-khayalan. Lalu penduduk kita yang miskin, yang tidak berpendidikan, yang kurang akses ekonomi dan pendidikan, mereka hidup dalam khayalan-khayalan tadi akibat ganja," ujar Marthinus prihatin.

Sementara itu, Rektor Universitas Udayana, Ketut Sudarsana, menjelaskan kalau riset ini sudah dimulai sejak awal 2025 dan melibatkan tim dari Fakultas Ilmu Farmasi. Mereka juga sudah meminta izin ke BNN untuk pakai ganja sebagai bahan penelitian.

Jadi, apakah ganja bakal berubah nasib dari 'musuh negara' jadi 'herbal penyelamat'? Kita tunggu hasil risetnya!

Dengan riset kolaboratif antara BNN dan Universitas Udayana, harapannya hasil penelitian ganja medis ini bisa memberikan jawaban ilmiah yang jelas: apakah ganja benar-benar bisa jadi obat, atau justru menyimpan bahaya yang mengintai generasi muda.

Apapun hasilnya nanti, pengawasan dan regulasi ketat tetap jadi kunci agar masyarakat tak terjebak dalam euforia yang salah arah, ya Gen.