Tiongkok Dukung Kesepakatan Damai AS-Iran
WASHINGTON, GENVOICE.ID - Pemerintah Tiongkok mendukung penuh kesepakatan damai yang dicapai Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang berujung pada pembukaan kembali lalu lintas perairan di Selat Hormuz.
"Tiongkok menyambut baik kesepakatan antara AS dan Iran yang sama-sama sepakat untuk mendatangani dokumen nota kesepahaman tahap pertama. Kami juga mengapresiasi upaya mediasi Pakistan," kata Juru Bicara Kementerian Tiongkok, Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (15/6).
AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) secara elektronik untuk mengakhiri perang di Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir.
Media AS, Senin (15/6) melaporkan MoU ditandatangani secara virtual oleh Presiden AS, Donald Trump, Wakil Presiden AS, JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ketentuan dalam MoU tersebut diperkirakan akan dipublikasikan dalam waktu 24 hingga 48 jam ke depan, sebagaimana dikutip dari seorang pejabat senior AS. MoU sendiri dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni mendatang.
Sebelumnya pada Senin, Trump melalui akun Truth Social miliknya mengatakan bahwa kapal-kapal yang memuat minyak telah mulai bergerak keluar dari Selat Hormuz.
Trump pada Minggu (14/6) menyebutkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai, sesaat setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan kabar tersebut di media sosial X.
Presiden AS, Donald Trump pada Minggu (14/6) mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah rampung dan menyatakan Selat Hormuz terbuka karena blokade Angkatan Laut AS sudah dicabut.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak!" tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.
"Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, dan pada saat yang sama mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat," ungkap Trump.
Teruskan Konsultasi
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menekankan tanggung jawab Amerika Serikat terhadap implementasi nota kesepahaman perdamaian dengan Iran serta penghentian total serangan militer Israel terhadap Lebanon.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam percakapannya secara terpisah masing-masing dengan Menlu Turki Hakan Fidan, Menlu Irak Fuad Hussein, dan Menlu Mesir Badr Abdelatty.
Araghchi menyatakan pihaknya telah mengkaji proses dan klausul-klausul yang tercapai dalam negosiasi di Islamabad, Pakistan. Dia juga mengapresiasi posisi dan peran Turki, Iran, dan Mesir dalam mendukung gencatan senjata dan meredakan ketegangan, serta atas upaya diplomatik untuk mencapai stabilitas dan keamanan kawasan.
Para pihak tersebut menekankan agar semua upaya tetap dilanjutkan untuk meneruskan konsultasi terkait perkembangan kawasan dan menguatkan upaya diplomatik dalam menjaga keamanan dan stabilitas.
Dari Washington, Wakil Presiden AS, J D Vance memastikan Iran akan dapat mengakses dana segar sebesar 300 miliar dollar AS (sekitar 5 kuadriliun rupiah) biaya rekonstruksi jika bersedia mematuhi kesepakatan.
"Dana tersebut merupakan hal yang dapat mereka akses, dengan didanai oleh koalisi Teluk, sepanjang mereka mematuhi kewajibannya," kata J.D. Vance kepada CBS News, Senin (15/6).
Hal itu disampaikan Vance saat untuk menjawab soal pernyataan Iran bahwa mereka akan mendapat 300 miliar dolar AS untuk rekonstruksi. Vance pun mengatakan AS tidak keberatan apabila negara-negara di kawasan Teluk memilih berinvestasi dalam proses rekonstruksi di Iran, sepanjang Teheran memenuhi komitmen mereka.
"Kami sepenuhnya terbuka dengan langkah negara-negara Teluk untuk berinvestasi dalam rekonstruksi di Iran. Asalkan Iran mengakhiri program nuklir mereka, menghilangkan uranium diperkaya mereka, dan terbuka sepenuhnya terhadap pengawasan dan langkah penegakan, yang dapat meyakinkan rakyat Amerika kalau mereka tak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Vance.Ant/ers/YK/E-9